Sertifikasi Guru Tidak Tepat Sasaran

Sertifikasi Guru Tidak Tepat Sasaran

KOMPAS/C WAHYU HARYO PS
Ilustrasi:
"Mereka masuk kategori melengkapi administrasi dan substansi. Kalau
gagal dinyatakan tidak lulus dan langsung mengikuti PLPG awal Oktober
nanti," kata Sekretaris Panitia Sertifikasi Guru (PSG) Sajidan di FKIP
Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Solo, Kamis (3/9).
Artikel Terkait:

* Dinas Pendidikan Ancam Cabut Tunjangan Profesi
* Program Sertifikasi Guru Perlu Diperbaiki!
* Lagi... Tunjangan Profesi 27.000 Guru di Jatim Tertahan!
* Persentase Guru yang Lulus Portofolio Turun
* LPPOM MUI Dukung Penuh RUU Sertifikasi Halal
Jumat, 13 November 2009 | 07:47 WIB
SOLO, KOMPAS.com - Sertifikasi guru yang bertujuan meningkatkan kompetensi sekaligus
kesejahteraan guru ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Guru
yang telah lolos sertifikasi ternyata tidak menunjukkan peningkatan
kompetensi yang signifikan.
”Dari kajian yang dilakukan, ternyata
motivasi para guru mengikuti sertifikasi umumnya terkait aspek
finansial, yaitu segera mendapat tunjangan profesi,” kata Prof Dr
Baedhowi, MSi dalam pidato pengukuhan guru besar Manajemen Sumber Daya
Manusia pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas
Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Kamis (12/11). Baedhowi adalah
guru besar ke-188 di UNS Solo.
Dalam Rapat Senat Terbuka UNS yang
dipimpin Rektor UNS Dr dr Much Syamsulhadi, SpKJ (K), Baedhowi—yang
kini menjabat Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
Kependidikan (PMPTK) Departemen Pendidikan Nasional—membawakan pidato
berjudul ”Tantangan Profesionalisme Guru pada Era Sertifikasi”.
Sertifikasi
guru yang merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu sekaligus
kesejahteraan guru sasarannya bisa menjangkau 2,7 juta guru. Namun, hingga saat ini baru sekitar 500.000 guru yang lolos sertifikasi dan mendapat tunjangan profesi sebesar satu kali gaji.
Sebuah
kajian untuk mengetahui kompetensi guru pascasertifikasi, yang
dilakukan Baedhowi dan Hartoyo (tahun 2009), menunjukkan motivasi guru
untuk segera ikut kompetensi bukanlah semata-mata untuk mengetahui
tingkat kompetensi mereka, tetapi yang lebih menonjol adalah motivasi
finansial.
Alasan finansial
Motivasi
yang sama ditemukan Direktorat Jenderal PMPTK Depdiknas ketika
melakukan kajian serupa di Provinsi Sumatera Barat, Jawa Timur, Jawa
Tengah, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat tahun 2008. Kajian ini melibatkan responden 2.600 guru yang belum mengikuti sertifikasi dan 2.600 guru yang telah mengikuti sertifikasi.
”Meskipun alasan mereka bervariasi, secara umum motivasi mereka mengikuti sertifikasi ialah finansial,” kata Baedhowi.
Alasan
para guru mengikuti sertifikasi, antara lain, agar mendapat tunjangan
profesi, segera mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tunjangan
untuk biaya kuliah, biaya pendidikan anak, merenovasi rumah, dan
membayar utang.
”Tujuan utama sertifikasi untuk mewujudkan kompetensi guru tampaknya masih disikapi guru sebatas wacana,” ujarnya.
Kenyataan
menunjukkan bahwa sertifikasi saja tidaklah cukup sebagai upaya
mewujudkan dan meningkatkan kompetensi guru. Meski telah dinyatakan
lulus sertifikasi dan telah menerima tunjangan profesi, bukan berarti
guru telah memiliki kompetensi yang dipersyaratkan undang-undang.
”Ini bukan masalah, melainkan tantangan bagi guru,” kata Baedhowi.
Untuk
mewujudkan guru yang benar-benar profesional, pascasertifikasi perlu
ada upaya sistematis, sinergis, dan berkesinambungan yang menjamin guru
tetap profesional.
Ditanya pers tentang banyaknya guru yang
membeli gelar atau ijazah sarjana tanpa melalui pendidikan di perguruan
tinggi yang terakreditasi, Baedhowi menyatakan prihatin. Ia menegaskan,
ijazah yang diragukan atau tidak jelas akan ditertibkan dan tidak bisa
masuk dalam penilaian untuk sertifikasi. (SON)

Read More......

100 PERDA PENGHAMBAT KOPERASI DI BATALKAN

Pojok Kilas Ekonomi Kompas hari ini 14 November mencatat pernyataan Deputi Menteri Negara Koperasi/Usaha Kecil dan Menengah Bidang Kelembagaan Untung Tri Basuki.
100 Perda penghambat Koperasi akan dibatalkan dalam waktu 100 hari ke depan karena masuk program 100 hari program kerja meneg tersebut.

Saya yang sering keluar masuk sekolah ingin menambahkan agar Peraturan Menteri Pendidikan nasional yang melarang Koperasi di Sekolah menjual Buku (Pengertian pihak Koperasi Sekolah adalah Semua Buku cetak) juga ikut diberantas.
Bayangkan berapa ribu unit sekolah yang telah memiliki unit Koperasi yang akan diharapkan menjadi ujung tombak "Peningkatan Minat Baca Masyarakat/siswa?"
Bukan hanya untuk meningkatkan minat baca, akan tetapi terlebih (bagi Koperasi sebagai unit usaha) bagi peningkatan penghasilan Unit Koperasi yang bersangkutan.
Apabila setiap hari ada Guru dan siswa yang membeli buku (pengayaan, referensi, sumber), berapa penambahan omzet Koperasi yang bersangkutan? ???
Memang dibandingkan dengan bakso, supermie, teh botol yang menjadi menu populer di Koperasi, tentu omzet buku akan kalah.
Akan tetapi bila dibandingkan dengan komoditas Sabun, Kecap atau Rinso tentu Omzet buku akan lebih baik.

Ketika berdiskusi dengan Bapak Tantu Syamsul dari Dinas Koperasi Tingkat I Sulawesi Selatan, dengan bersemangat beliau menyampaikan bahwa sebenarnya Koperasi Koperasi Sekolah pun harus terbuka untuk Umum, kalau mau menjadi Badan usaha sesuai tuntutan UUD 45 ==> menjadi soko guru ekonomi.
Artinya, Masyarakat di sekeliling Sekolah yang memiliki koperasi pun dimungkinkan berbelanja ke Koperasi Sekolah tersebut.
Pihak Koperasi Sekolah musti berpromosi ke kampung-kampung di sekitar sekolah menyampaikan barang apa saja kepada masyarakat berikut harganya yang bersaing.
Apa yang dilakukan Makro, Carrefour, Hypermart, Giant atau Alfa Mart yang setiap bulan atau tiap minggu menyebarkan flyers berisi barang-barang terbaru dan termurah mustinya juga dilakukan koperasi Sekolah bersama supliernya seperti Penerbit dan lainnya.
Ada yang unik dengan larangan berjualan buku di koperasi ini.
Di Jakarta Timur ada SMA yang memiliki Koperasi yang menghadap ke Jalan. Mereka bersaing dengan warung sepanjang jalan, namun apapun yang terjadi dia tidak mau menjual buku, hanya Baju seragam. Sehingga hanya sebulan dalam setahun buka. Selebihnya ya, simpan pinjam.
Masih di Jakarta Timur, ada Koperasi yang sudah memiliki Toko Buku sejak lama, artinya para penerbit dan grosir buku serta ATK selalu berhubungan dengan pengurus Toko untuk mendisplay barang dagangannya.
Nah 2 tahun terakhir toko buku ini tutup karena aturan tersebut.

Jadi tiba saatnya bagi Menteri Negara Koperasi dan UKM untuk menata dan mengembangkan Koperasi Sekolah termasuk Koperasi-koperasi di Perguruan Tinggi.

dharma hutauruk

Read More......

SERI GURU IDOLA - 1, Branding ( Membangun Kekhasan )

Siang ini begitu terik, Pak Bambang masih
mengajar dengan semangat di sebuah kelas pada sebuah sekolah menengah negeri di
kota ini. Beliau adalah guru sejarah yang disukai murid-muridnya. Hari ini
beliau sedang mengajar tentang kronologi peristiwa Sumpah Pemuda. Semua siswa
mendengarkan dengan seksama, tapi siang yang begitu terik membuat mereka merasa
lelah. Beberapa siswa terlihat mulai mengantuk. Pak Bambang melihat kondisi
ini, kemudian ia membuka kacamatanya dan mulai bercerita. Semua siswa beranjak
membetulkan posisi duduknya, mereka tahu jika Pak Bambang sudah membuka
kacamatanya, maka akan ada sesuatu yang menarik yang akan disampaikannya.
Berikut cerita Pak Bambang, ”Sumpah Pemuda bertujuan untuk menyatukan persepsi
organisasi-organisa si kepemudaan saat itu. Agar semua organisasi memiliki
persepsi yang sama tentang perjuangan merebut kemerdekaan, berbicara dan
berpikir sama mengenai kemerdekaan”. Kemudian ia melanjutkan lagi, ”Berbicara
mengenai perbedaan persepsi, saya jadi teringat sebuah cerita. Ceritanya begini
:



Suatu
pagi sekitar jam 08.30 WIB, telpon berbunyi di salah satu bioskop di bilangan
Kota Depok. ”Halo selamat pagi, Bioskop Depok ada yang bisa saya bantu ?”
resepsionis bioskop dengan ramahnya menjawab telpon.

"Pagi
mbak, saya mo tanya, bioskop mulainya jam berapa ya ?" tanya seseorang
diseberang telpon.

"Jam 12.30 pak " jawab resepsionis. "OK deh, terimakasih
ya" sahutnya.

Tak lama kemudian telpon berbunyi lagi, "Haloo, selamat pagi, Bioskop
Depok. Ada yg bisa dibantu ?" kembali sang resepsionis menjawab.

”Pagi juga, maaf mbak, bioskop main yg pertama jam berapa ya ?" ternyata
orang itu lagi yang menelpon. "Oohh, bapak yg tadi ya ? kan tadi sudah
dibilang jam 12.30 pak” dengan sedikit kesal resepsionis itu menjawab.

”Oh gitu, maaf lagi ya mbak, bisa di percepat nggak ya mulainya ? misalnya jadi
jam 10”

”Loh nggak bisa dong pak, itukan sudah dijadwalkan”

”Oke deh mbak, terimakasih ya"

Kriiing.. kriiing.. kriingg.. Jam 9.30 pagi, telpon resepsionis berbunyi lagi.

”Haloo, selamat pagi, Bioskop Depok. Ada yg bisa dibantu ?"

”Maaf mbak, saya orang yang tadi, bioskop jam 12.30 ya mulai nya ? masih bisa dijadwalkan
ulang nggak ya ?"

"Bapak gimana sih, kan udah dibilang tadi, jadwal bioskop sudah nggak bisa
digonta-ganti, jangan ganggu terus dong. Sebetulnya apa sih maunya ?”

"BUKAN BEGITU MBAK, SEKARANG SAYA LAGI DI DALAM BIOSKOP NIH..., KEKUNCI
SEMALAM GARA-GARA NONTON MIDNIGHT KETIDURAN..! !"



Sontak seluruh siswa tertawa
terpingkal-pingkal mendengar cerita Pak Bambang itu, dan mereka yang tadinya
mengantuk kembali terjaga. Para siswapun menjadi lebih mudah mengerti tentang
perbedaan persepsi yang dijelaskan Pak Bambang. Begitulah khas kelas Pak
Bambang. Penuh dengan selingan humor yang membuat siswa begitu menikmati
pengajaran di kelasnya.



Lain lagi dengan Pak Budi, beliau
adalah guru fisika yang memiliki ciri khas yang lain. Saat ia melihat para
siswa mulai bosan, ia akan mengeluarkan tas berbentuk kotak hitam miliknya, dan
saat itulah para siswa akan mulai antusias untuk menanti benda apa lagi yang
akan dikeluarkan Pak Budi dari tas kotak hitamnya itu. Pak Budi adalah guru
yang pandai membuat alat-alat simulasi fisika yang terbuat dari barang-barang
bekas, dan semua siswa akan sangat antusias untuk memahami fisika dengan
alat-alat itu.



Pak Bambang dan Pak Budi adalah
salah satu contoh guru yang mampu membangun brand image yang baik
didepan siswa mereka. Mereka membangun kekhasan yang menarik bagi para siswa.
Bagi mereka, menjadi guru tidak hanya mengajar dalam rangka mengejar kurikulum,
melainkan juga membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa. Dan pola
pengajaran yang menyenangkan menjadi sebuah kebutuhan terkait hal ini. Mereka
memperlakukan para siswa seperti layaknya produsen memperlakukan konsumen,
dengan berorientasi pada kepuasan konsumen, sehingga konsumen bisa menikmati
jasa mereka dengan perasaan penuh kegembiraan.



Tidak hanya dengan humor dan
alat-alat simulasi, banyak cara lain yang bisa digunakan. Seorang guru pernah
bertanya dalam sessi training saya. Beliau menceritakan bahwa para siswa yang
beliau ajarkan sangat tertarik dan selalu meminta diceritakan dongeng-dongeng
menarik yang biasanya beliau sampaikan. Tetapi, ia sering kehabisan persediaan
dongeng untuk disampaikan. Kemudian beliau bertanya, bagaimana dia harus
menyikapi hal ini ? Apakah dongeng bisa membuat pelajaran menjadi lebih
menyenangkan ? Saya menjawab, ”Jika siswa sudah tertarik dan meminta, berarti
mereka telah mengidentikkan Ibu dengan dongeng-dongeng itu, itulah brand
image yang telah Ibu bangun, tambahkan persediaan dongeng Ibu, kemudian
sampaikan sesuai dengan tema pengajaran, maka para siswa akan mengingat Ibu dan
pelajaran yang Ibu sampaikan.”



Membuat pengajaran menjadi
menyenangkan, ada banyak caranya. Kita bisa memilih apapun caranya yang penting
sesuai dengan tema pengajaran dan kemampuan yang kita miliki. Ada guru yang
menggunakan musik, pantun, multimedia bahkan permainan sulap dalam sessi
pengajaran yang mereka lakukan. Catatan pentingnya adalah gunakan cara yang
sesuai dengan tema pengajaran dan kemampuan yang kita miliki, kemudian jadikan
itu sebagai pembeda antara kelas kita dengan kelas-kelas lainnya.







Catur
Suryo

Ph : 0818-705497

www.sahabatsuryo. blogspot. com



Read More......

Onno: Arahkan Dana Jardiknas untuk Konten Pendidikan

Jakarta - Dengan banyaknya layanan
internet yang saat ini sudah relatif murah, Diknas dianggap tidak masuk
akal jika membuat jaringan sendiri atau mengalokasikan dana yang terlalu besar untuk membeli bandwidth.

Hal inilah yang juga menjadi
bahan diskusi di kalangan anggota Komisi X DPR RI. Menurut praktisi TI,
Onno W. Purbo, walaupun ada pro-kontra yang lumayan tajam, tampaknya
anggota dewan di Komisi X cukup taktis dalam melihat kebijakan tentang
jaringan pendidikan khususnya Jardiknas.

"Kira-kira akan lebih
masuk akal jika dana Jardiknas diarahkan untuk membangun konten-konten
pendidikan, beasiswa SDM dan guru supaya kualitas pendidikan menjadi
naik. Kira-kira itu garis besar pertemuan dengan DPR RI hari ini," ujar
Onno, yang juga turut serta dalam acara rapat dengar pendapat tersebut.

Onno juga menyarankan agar Komisi X menjalin komunikasi dengan rekan-rekan
mereka di Komisi I yang membawahi industri telekomunikasi. Hal ini untuk meminta keringanan biaya internet bagi sektor pendidikan dari para
operator telekomunikasi.

"Juga di-redirect dana USO (Universal
Service Obligation-red. ) agar bisa digunakan untuk sekolah/pendidikan
terutama di daerah tertinggal dan terpencil," kata Onno.

"Kalau
dari mata saya intinya dua hal yang akan sangat strategis, yaitu SDM dan konten pendidikan," tutup sang pendekar TI kepada detikINET, Rabu
(21/4/2010).

Catatan:

Sumber berita Detik.com, dimuat ulang di website Klub Guru Indonesia:
http://klubguru. com/2-view. php?subaction= showfull& id=1271864188& archive=& start_from= &ucat=1&

Read More......

Kualitas Pendidikan Tinggi Indonesia Tertinggal Jauh

http://edukasi. kompas.com/ read/xml/ 2009/11/16/ 12133939/ kualitas. pendidikan. tinggi.indonesia .tertinggal. jauh

Senin, 16 November 2009 | 12:13 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Perguruan-perguruan tinggi di Indonesia perlu melakukan kerjasama internasional dengan universitas di luar negeri Selain bertujuan untuk meningkatkan kualitas, hal itu juga demi daya saing.
Sampai saat ini, belum ada lembaga pendidikan di Indonesia yang masuk dalam kategori 200 universitas terbaik dunia versi lembaga pemeringkat ternama The Times Higher Education-QS World University (The-QS World University).

Sementara itu, Global Competitiveness Report 2009/2010, yang antara lain menilai tingkat persaingan global suatu negara dari kualitas pendidikan tingginya, pun cuma menempatkan Indonesia di peringkat ke-54 dari 133 negara, yaitu di bawah Singapura (3), Malaysia (24), Cina (29),Thailand (36), serta India (49). Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, jumlah sarjana yang belum bekerja per Februari 2009 hampir mencapai 13% dari total jumlah penganggur, atau sekitar 1,2 juta orang.

Menurut Country Director British Council Indonesia Keith Davies dalam seminar membahas peluang dan tantangan kerjasama internasional di Jakarta, Sabtu lalu (14/11), kerjasama antara universitas di Indonesia dengan perguruan tinggi luar negeri yang lebih berpengalaman bisa dilakukan melalui Double Degree, Franchise atau Staff Exchange.
Sayangnya, di kata dia, bidang ini pun Indonesia masih tertinggal dibanding negara tetangganya. Sebuah penelitian di Inggris menemukan, saat ini terdapat 270,000 mahasiswa asing yang mengambil double degree di sana. Dari jumlah itu, Malaysia, Singapura, Hongkong, dan India menyumbang hampir setengahnya.

Kesiapan universitas

Mahasiswa asing yang universitasnya menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi Inggris bisa meraih diploma ganda sekaligus mendapatkan salah satu pendidikan terbaik di dunia. Menurut The-QS World University, peringkat 5 besar universitas terbaik dunia saat ini didominasi oleh 4 perguruan tinggi Inggris yaitu University of Cambridge, University College London, Imperial College London, dan University of Oxford.
Untuk itulah, lanjut Davies, mulai tahun depan pemerintah Inggris melalui British Council menyediakan bantuan "Prime Minister Initiative 2: Collaborative Programme Delivery" hingga sebesar 1,2 juta poundsterling bagi perguruan tinggi di Indonesia. Dana itu, kata dia, dipergunakan untuk membangun kerjasama internasional hingga dua tahun berikutnya.

Sejak dicanangkan pada 2006 lalu, program Prime Minister Initiative ini berhasil membiayai 235 kerjasama penelitian, pelatihan dosen, pertukaran mahasiswa, dan beasiswa antar universitas di seluruh dunia.
"Melalui kemitraan ini kami berharap dapat mewujudkan internasionalisasi dunia pendidikan yang lebih luas lagi. Program ini sebagai pembuka jalan untuk kemitraan antar lembaga pendidikan kedua negara," ujar Davies.

Dia menambahkan, sudah ada beberapa perguruan tinggi yang sukses membangun kerjasama dengan Inggris. Sebutlah misalnya, kata dia, Universitas Bina Nusantara yang bekerjasama dengan Northumbria University untuk Design Studies dan dengan Bournemouth University untuk Tourism & Hospitality. Contoh lainnya adalah Universitas Indonusa Esa Unggul, yang bermitra dengan Heriot Watt untuk Management Programme.
Mahasiswa jurusan desain Bina Nusantara, ujar Keith, bisa belajar dan mendapatkan gelar dari Northumbria, --kampus yang menelorkan Jonathan Ives, si perancang iPod dan iPhone yang tersohor itu. Sementara itu, mahasiswa di bidang pariwisata pun bisa mendapatkan gelar dari Bournemouth yang belum lama ini menginvestasikan 1.5 juta poundsterling untuk fasilitas teknologi komunikasi dan informasinya.

Menanggapi hal itu, Dekan Program Binus Internasional Minaldi Loeis mengatakan, bahwa segalanya kembali pada pengelola lembaga pendidikan itu sendiri.
"Tantangannya justru ada pada kesiapan universitas dalam menjalankan visi, komitmen, pemasaran, serta manajemen programmya," tutur Loeis.
Dia menambahkan, biaya sebetulnya bukan menjadi kendala. Walaupun Binus menaikkan biaya pendidikan internasionalnya hingga 10 persen demi menjaga kualitas, lanjut Loeis, jumlah mahasiswa yang mendaftar setiap tahunnya mengalami kenaikan antara 10 sampai 20 persen.


Read More......

Mengapa Yahudi Bijak

Setelah berada 3 tahun di Israel kerana menjalani housemanship dibeberapa
hospital disana, ada beberapa perkara yang menarik dapat saya perhatikan
untuk dijadikan tesis ini, iaitu “Mengapa Yahudi Bijak?”. Memang tidak dapat
dinafikan ramai cendikiawan berbangsa Yahudi, dari segala bidang,
Engineering, musik, saintis dan yang paling hebat ialah bidang perniagaan,
dimana ia memang paling tersohor. Hampir 70% perniagaan di dunia dikuasai
oleh kaum Yahudi, dari kosmetik, pakaian, pemakanan, senjata, perhotelan,
perfileman diHollywood dan sebagainya.

Ketika tahun kedua, akhir bulan December 1980 dan sedang saya menghitung
hari untuk pulang ke California saya terfikir apakah sebab nya kaum Yahudi
begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini
suatu kebetulan? Atau olah manusia sendiri? Adakah bijak boleh dijana?
Seperti kilang pengeluaran?

Maka saya pon tergerak membuat tesis untuk Phd saya, disamping kebaikan
untuk umat sejagat dan dapat hidup secara harmoni. Untuk pengetahuan anda
tesis yang saya lakukan ini mengambil masa hampir lapan tahun, ini kerana
untuk mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.

Antara data-data yang saya kumpulkan ialah pemakanan, adat resam, ugama,
persiapan awal untuk melahirkan zuriat dan sebagainya dan data data tadi
saya cuba bandingkan dengan bangsa dan kaum kaum lain.

Marilah kita mulakan dengan persiapan awal melahirkan zuriat. Di Israel,
setelah mengetahui yang sang ibu sedang mengandung, pertama kali saya
perhatikan ialah, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano dan si ibu
dan bapa akan membeli buku metamatik dan menyelesaikan masalah metamatik
bersama suami, saya sungguh hairan kerana teman saya yang mengandung sering
membawa buku metamatik dan bertanya kepada saya beberapa soalan yang beliau
tak dapat menyelesaikanya, oleh kerana saya memang minat tentang metamatik,
tentu saja dengan senang saya bantu beliau. Saya bertanya kepada beliau,
adakah ini untuk anak kamu? Beliau menjawab, “ia, ini untuk anak saya yang
masih didalam kandungan, saya sedang melatih otak beliau, semuga ia menjadi
genius apabila dewasa kelak” Perkara ini membuat saya tertarik untuk
mengikut perkembangan beliau seterusnya. Berbalik kepada metamatik tadi,
tanpa merasa jenoh beliau membuat latihan metamatik sehingga beliau
melahirkan anak.

Seperkara lagi yang saya perhatikan ialah pemakanan beliau, sejak awal
mengandung beliau gemar sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu ,
dan untuk tengah hari makan utama beliau ialah roti dan ikan tanpa kepala
bersama salad yang digaul dengan badam dan berbagai jenis kekacang, menurut
beliau daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan
mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merosakkan pengembangan dan
penumbuhan otak anak didalam kandungan. menurut beliau ini adalah adat orang
orang yahudi ketika mengandung dan ianya menjadi semacam kewajipan untuk ibu
ibu yang sedang mengandung mengambil pil minyak ikan.

Ketika saya diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi, perkara
pertama yang saya perhatikan ialah menu mereka. Setiap undangan yg sama
perhatikan ialah mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet)
dan biasanya daging tidak akan ada bersama dimeja jika ada ikan, menurut
mereka, campuran daging dan ikan tak elok dimakan bersama. Salad dan kacang
adalah suatu kemestian, terutama badam.

Seperkara yang pelik ialah mereka akan memakan buah buahan dahulu sebelum
memakan hidangan utama. Jangan terperanjat jika anda diundang kerumah Yahudi
anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan
hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan
menyebabkan kita merasa ngantuk dan lemah dan payah untuk memahami pelajaran
disekolah.

Di Israel, merokok adalah taboo, apabila anda diundang makan dirumah Yahudi,
jangan sekali kali merokok, dan tanpa malu mereka akan menyuruh anda keluar
dari rumah mereka dam merokok diluar rumah mereka. Menurut saintis di
Universiti Israel, siasatan menunjukkan nikotin dapat merosakkan sel utama
pada otak manusia dan akan melekat pada genes, ini bermakna keturunan
perokok bakal membawa generasi yg cacat otak ( bodoh atau lembab). Suatu
penemuan yg dahsyat ditemui oleh saintis yg mendalami bidang genes dan DNA.
Para perokok harap ambil perhatian. (Ironi nya, pemilik pengeluar rokok
terbesar adalah …… tekalah sendiri..!)

Perhatian saya selanjutnya ialah melawati tadika mereka, Pemakanan anak anak
tadi cukup dikawal, makanan awal ialah buah buahan bersama kacang badam,
diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever) Didalam pengamatan
saya, kanak Yahudi sungguh bijak dan rata rata mereka memahami 3 bahasa
iaitu Hebrew, Arab dan Inggeris dan sedari awal lagi mereka telah dilatih
bermain piano dan violin, ini adalah suatu kewajipan. Menurut mereka bermain
musik dan memahami nota notanya dapat meningkatkan lagi IQ kanak kanak dan
sudah tentu bakal menjadikan budak itu bijak.

Ini menurut saintis Yahudi, gegaran musik dapat stimulate (semacam senaman
untuk otak) maka itu terdapat ramai sekali genius musik terdiri dari kaum
Yahudi.

Seterusnya ke darjah 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar metamatik
berkonsepkan perniagaan dan pelajaran sains amatlah diberi keutamaan. Di
dalam perhatian peribadi saya, perbandingan dengan anak anak di California,
ianya jauh berbeza tentang IQ dan boleh saya katakan 6 tahun kebelakang!! !.
Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari
pelajaran tadi sukan juga menjadi kewajipan bagi mereka dan sukan yg diberi
keutamaan ialah memanah, menembak dan berlari, menurut teman saya ini,
memanah dan menembak dapat melatih otak mem fokus sesuatu perkara disamping
mempermudahkan persiapan untuk perhidmatan negara.

Selanjutnya pemerhatian saya menuju ke sekolah tinggi (menengah) disini
murid murid ditekan dengan pelajaran mata sains dan mereka digalakkan
mencipta produk, segala projek mereka walaupon kadangkala kelihatannya lucu
dan mengarut, tetap diteliti dengan serius apatah lagi ianya berupa senjata,
perubatan dan engineering, idea itu akan dibawa ke institute tinggi di
Politeknik dan Universiti.

Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakulti perniagaan. Saya sungguh
terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka tentang
perniagaan. Diakhir tahun diuniversiti, para penuntut dibidang niaga
dikehendaki melakukan projek dan memperaktik kanya dan anda hanya akan lulus
jika kumpulan anda(10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak
$US1juta! Anda terperanjat? Itulah kenyataan, dengan rangkaian seluruh dunia
dan ditaja sepenuhnya oleh syarikat milik Yahudi, maka tidak hairanlah
mereka dapat menguasai ½ perniagaan didunia! Siapakah yg mencipta design
Levis yg terkini? Ianya dicipta di Universiti Israel oleh fakulti bisnes dan
fesyen.

Pernahkah anda melihat cara orang Yahudi melakukan ibadah mereka? Salah satu
caranya ialah dengan menggoyangkan kepala mereka, menurut mereka ini dapat
mengaktifkan otak mereka dan menambahkan oksijan dikepala, banyak ugama lain
di Timur Tengah, seperti Islam juga ada menyuruh umatnya menunduk atau
menggoyangkan kepala, ini guna dapat mensimulasikan otak kita supaya
bertambah aktif. Lihat orang orang Jepun, mereka sering menunduk nundukkan
kepala dan ianya sebagai adat. Ramai orang orang Jepun yg pandai? Adakah
ianya sebagai kebetulan? Kegemaran mereka ialah sushi (ikan mentah). Adakah
ini kebetulan? Fikirkanlah!

Berpusat di New York, Dewan perniagaan Yahudi bersedia membantu mereka yg
berminat untuk melakukan bisnes (sudah tentu untuk Yahudi sahaja) jika
mereka ada idea yg bernas, jawatan kuasa akan memberi pinjaman tanpa faedah
dan pentadbir dari jawatan kuasa tadi akan bekerjasama dengan anda untuk
memastikan yg perniagaan mereka menurut landasan yg betul. Maka itu lahirlah
Starbuck, Dell comptr, Cocacola, DKNY, Oracle, Perfileman di Hollywood,
Levis, Dunkin Donut dan ada beratus kedai ternama dibawah naungan dewan
perniagaan Yahudi di New York. Graduan Yahudi dari fakulti perubatan New
York akan disarankan untuk mendaftar dipersatuan ini dan digalakkan
memulakan klinik mereka sendiri dengan bantuan wang tanpa faedah, barulah
saya tahu mengapa hospital di New York dan California sentiasa kekurangan
doktor pakar.

Kesimpulanya, pada teori saya, melahirkan anak dan keturunan yg bijak boleh
dilaksanakan dan tentunya bukan semalaman, ianya memerlukan masa, beberapa
jenerasi mungkin? Persiapan awal adalah ketika sang ibu mengandung,
galakkanlah siibu melakukan latihan metamatik yg mudah tetapi konsisten
disamping mendengar musik klasik. Seterusnya ubahlah cara pemakanan,
makanlah makanan yg elok dan berhasiat yg baik untuk otak, menghayati musik
sejak kecil adalah baik sekali untuk penumbuhan otak kanak kanak, dengan
bermain piano dan violin sudah tentu dapat melatih anak anak mencerdaskan
otak mereka demikian juga sukan yg memerlukan konsetrasi yg tinggi, seperti
memanah, bola keranjang, dart dan menembak.

Merokok menjanjikan jenerasi yg moron (goblok) dan sudah tentu genes bodoh
akan mengikut ke jenerasi siperokok. Lawatan saya ke Singapore pada tahun
2005 amat memeranjatkan sekali, disini perokok seperti dianak tirikan dan
begitu susah sekali untuk perokok dan anda tahu berapa harga sekotak rokok?
US$ 7 !!! ini bersamaan perbelanjaan sehari untuk makan anda!! Saya puji
sekali sikap pemerintah Singapore dan menkjubkan sekali!!! dan seperti
Israel ianya begitu taboo dan cara pentadbiran dan segi pembelajaran mereka
hampir serupa dengan Israel, maka itu saya lihat banyak institusi pelajaran
mereka bertaraf dunia walaupon hakikat nya negeri Singapore hanyalah sebuah
pulau sebesar Manhattan!!

Anda mungkin muskil, benarkah merokok dapat melahirkan jenerasi goblok, saya
telah menemui beberapa bukti menyokong teori ini. Lihat saja Indonesia, jika
anda ke Jakarta, dimana saja anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga
hingga kemusium hidung anda akan segera terbau asak rokok! Dan harga rokok?
Cuma US$ .70cts !!! dan hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang
berapa banyak kah universiti terdapat disana? Hasil apakah yg dapat
dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain
dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai
bahasa Inggeris? Ditangga berapakah kedudukan mereka di pertandingan
metamatik sedunia? Adakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri.

Di tesis saya ini, saya tidak akan menimbulkan soal ugama atau bangsa,
adakah Yahudi itu zalim sehingga diusir dari semenjak zaman Paraoh hingga ke
Hitler, bagi saya itu isu politik dan survival, yg ingin saya ketengahkan
ialah, mampu kah kita dapat melahirkan jenerasi yg bijak seperti Yahudi?
Jawabanya ialah mungkin dan tidak mustahil dan ianya memerlukan perubahan,
dari segi pemakanan dan cara mendididik anak dan saya kira hanya memerlukan
3 jenerasi sahaja. Ini dapat saya lihat sendiri tentang cucu saya, ini
setelah saya mengajar anak saya melalui program yg telah saya nyatakan
diatas tadi, pada umur 9 tahun (cucu saya) dia dapat menulis esay sepanjang
5 mukasurat penuh. Esay nya hanyalah mengenai Mengapa saya gemarkan tomato!

Selamat sejahtera dan semuga kita dapat melahirkan manusia yg bijak dan
bersifat mulia untuk kebaikan manusia sejagat tanpa mengenal batasan bangsa.

Dr. Stephen Carr Leon

Read More......

ODC Sosialisasikan Internet Sehat dan Aman Bagi Keluarga

Setiap orang berhak mendapatkan informasi. Namun informasi juga dapat membawa efek negatif, khususnya bagi generasi muda, jika mereka seringkali mengakses konten-konten berisi pertentangan terhadap SARA, kekerasan, pelecehan, pornografi dan lain sebagainya.

Sebuah survei, seperti dilaporkan harian Kompas menyebutkan bahwa kenakalan anak bergeser dan mengarah pada penyalahgunaan teknologi, termasuk Internet. Hal tersebut berdampak pada prestasi belajar dan perkembangan mental anak. Media online Detikcom pun melaporkan, dampak dan bahaya nyata pelanggaran privasi yang terpicu dengan tren pertumbuhan pengguna situs jejaring sosial di Indonesia.

Ancaman atau bahaya yang datang dari Internet tersebut tak urung menjadi perhatian yang serius oleh institusi telekomunikasi internasional, International Telecommunication Union (ITU). Pada 17 Mei 2009, yang merupakan Hari Telekomunikasi dan Informasi Sedunia (World Telecommunication and Information Society Day), ITU secara khusus mengambil tema “Protecting children in cyberspace”.

ITU menghimbau kepada seluruh negara anggotanya, termasuk Indonesia, untuk mengambil langkah yang nyata terkait dengan keamanan dan kenyamanan anak dan remaja ketika menggunakan Internet. Baik regulator, operator, industri, organisasi nirlaba bahkan media massa diharapkan oleh ITU dapat saling bersinergi dan berpartisipasi aktif.

Berdasarkan hal itu, dalam rangka memperingati hari Kartini di bulan April ini, yayasan yang bergerak dalam bidang teknologi informasi (TI) bernama One Destination Center (ODC) dan ICT Watch serta didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemeninfo) mengadakan seminar tentang Internet Sehat dan Aman Bagi Keluarga.

“Kami ingin berpartisipasi dalam mensosialisasikan Internet Sehat dan Aman bagi masyarakat, serta untuk perempuan dan ibu rumah tangga khususnya. Selain itu seminar ini juga bertujuan untuk menginformasikan manfaat TI bagi kehidupan, karena dengan TI kita bisa menambah ilmu dan wawasan dengan cepat dan aman, bukan hanya informasi negatif yang menakutkan para orang tua,” kata Donny BU, Pimpinan ICT Watch.

Sementara Onno W. Purbo, Pakar Internet Indonesia mengatakan, “Pengarahan yang tepat dari orang tua khususnya ibu rumah tangga sangat diperlukan, karena Ibu adalah pendamping pertama di rumah yang menjadi tempat bertanya, dimintai pendapat bahkan mengambil kebijakan atau keputusan untuk pendidikan anak-anaknya.”
Melalui acara ini, lanjut Onno, orang tua dapat mengetahui bagaimana dunia internet sebenar-benarnya dilihat dari sisi negatif dan positif, sehingga para orang tua dapat melakukan proteksi dini kepada anak-anak mereka.

Seminar diadakan tanggal 24 April 2010 di Aula Kecamatan Kemayoran, Jakarta, jam 10.00 WIB. Selain Donny BU dan Onno W. Purbo, pembicara yang akan hadir pada seminar ini antara lain Seto Mulyadi (Pemerhati anak – Komnas Perlindungan Anak) dan Silvia Murni (Walikota Jakarta Pusat).

Acara ini didukung oleh Kecamatan Kemayoran, Kelurahan Cempaka Baru, Kelurahan Kebon Kosong, HIMPAUDI Kecamatan Kemayoran, Komunitas Perempuan Al-Zahira dan PT. Masterdata serta Majalah BISKOM sebagai media partner.
Terima kasih.

Salam,
Mr.Hoky / Soegiharto Santoso.
ATM COM / MASTERDATA / NOTEBOOK88 / Techno Pro
BISKOM - Mitra Komunitas Telematika
www.biskom.web. id
www.masterdata. co.id

Read More......

Cengkeh Selundupan Disegel Pakai Rafia, DPRD Kuak Main-main Bea Cukai

Dugaan pejabat Bea Cukai Tanjung Perak “main-main” dalam kasus 92
kontainer cengkeh dan tembakau asal Suriname, dikuak Komisi A DPRD
Jatim. Dalam sidak kemarin (19/4), komisi bidang hukum kaget cengkeh
yang diimpor PT Bibis, perusahaan milik Sadikin, pengusaha yang dikenal
pemain kayu. Pasalnya, barang impor itu sudah dikeluarkan dari
kontainer. Ironisnya, sebagian cengkeh dikirim ke PT Gudang Garam Tbk
Kediri. Padahal, PT Bibis, yang dipimpin Seger, tak memiliki izin
impor. Kasus ini kini menarik. Selain LIRA dan DPRD Jatim, Polres KP3
Tanjung Perak juga melakukan penyelidikan. Petugas KP3 juga terkenyak.
Barang bukti (BB) cengkeh disegel hanya dengan tali rafia. Masya Allah!

Senin pagi kemarin (19/4), Anggota Komisi A DPRD Jatim melakukan sidak
mendadak ke Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tanjung
Perak Surabaya. Depo Indra Jaya Swastika (IJS) di Jl Kalianak, sebagai
tempat cengkeh disegel oleh Bea Cukai, juga ditelisik. kali ini, Kepala
Bea Cukai Tanjung Perak Chairul Saleh dan Kasi P2 Iwan K, yang biasa
memeriksa eksportir dan importir, diinterogasi oleh wakil rakyat Jawa
Timur.

Dari menginterogasi Chairul dan Iwan K serta sidak di lapangan, anggota
dewan, dibuat terperangah. Masya Allah, BB sudah tak di dalam
kontainer. Yang dijumpai hanya sekitar 500 sak cengkeh yang disegel.
“Mana lainnya?” tanya Saut Marisi Simanjuntak SH, anggota komisi A.
Dengan agak gugup, Kasi P2 Bea Cukai Iwan K menjawab, 60 kontainer
lainnya sudah berpindah ke gudang PT Gudang Garam Kediri. Sedang 7
kontainer lainnya masih di gudang PT Bibis, milik Sadikin. “Namun itu
masih dalam pengawasan dan disegel,” kata Iwan K.

Mendapat jawaban itu, anggota DPRD Jatim bakal mengecek ke PT Gudang
Garam. “Besok (hari ini, red) kita akan ke PT Gudang Garam Kediri,
untuk kroscek. Siapa tahu cengkeh dan tembakaunya sudah dipakai,” tutur
politisi Demokrat ini.

Ahmad Jabir dari Fraksi PKS juga mencurigai Bea Cukai. Kata dia, kasus
serupa seperti importasi cengkeh tanpa dokumen lengkap diindikasikan
sering terjadi di Bea Cukai. Barang sudah masuk, tapi kelengkapan
administrasinya masih belum beres. Anehnya, Bea Cukai memberi
toleransi. “Artinya ini bisa dikategorikan adanya kesalahan. Jika
kesalahan itu dilakukan dengan sengaja, maka ini sarat permainan. Kita
akan melakukan pengawalan. Bila perlu hingga ke Departemen
Perindustrian Perdaganagan untuk menjernihkan segala bentuk aturannya,”
ungkapnya.

Wajar saja kecurigaan anggota dewan ini. Sebab, di belakang PT Bibis
ini disinyalir ada “pemain” besar. Informasi yang dihimpun, PT Bibis
ini dijalankan oleh pengusaha bersama Seger. Namun, dia diback up oleh
pemain kayu bernama Sadikin.

Namun, Chairul Saleh membantah pihaknya main-main dalam penanganan
importasi cengkeh ini. “Kami hanya pelaksana teknis peraturan
Departemen Perdagangan,” kata Chairul. “Juga tidak ada importer binaan
seperti isu yang beredar,” imbuhnya menegaskan.

KP3 Ikut Lidik

Rupanya tidak hanya pihak DPRD Jatim yang turun. Polres KP3 Tanjung
Perak juga melakukan penyelidikan terkait kasus importasi cengkeh oleh
PT Bibis ini. Kasat Reskrim Polres KP3 Tanjung Perak AKP Setyo
membenarkan pihaknya melakukan penyelidikan kasus tersebut. Namun, dia
masih enggan mengungkapkan hasilnya. “Ini masih dalam penyelidikan.
Jika nanti sudah tingkat penyidikan baru kami akan membeberkannya,”
kata Setyo yang dihubungi terpisah.

Namun, sumber di KP3 menyebutkan, petugas melakukan penyelidikan
setelah ada berita jika 92 kontainer cengkeh itu diduga “dimainkan”
pejabat Bea Cukai Tanjung Perak. Bahkan, dalam penyelidikan menemukan
BB cengkeh itu hanya disegel dengan tali rafia. “Ini kan aneh,” ucap
dia.

Eko Pujiono SH, dosen hukum Universitas Hang Tuah, melihat ada yang
ganjil dalam penyegelan BB cengkeh itu. Menurutnya, teknis penyegelan
BB memang tidak diatur dalam KUHAP. “Tapi jika cuma pakai tali rafia,
jelas aneh,” terang dia.

Karena itu, dia meminta wartawan agar menanyakan, apakah penyegelan itu
dibuatkan berita acara atau tidak. Hal sama diungkapkan advokat Iwan
Kuswardi SH. Menurutnya, untuk cengkeh yang ada dalam kontainer yang
tidak dilengkapi dokumen yang sah mestinya tetap disegel dalam
kontainer. Namun, karena dengan alasan barang bukti tersebut bisa rusak
maka boleh untuk dikeluarkan. “Tapi perlu dicek, kenapa Bea Cukai
melakukan itu,” ujarnya. n

http://www.surabaya pagi.com/ index.php? p=detilberita& id=47373

PT Gudang Garam Bungkam

Meski Bea Cukai Tanjung Perak mengakui 60 kontainer cengkeh telah
disegel di gudang PT Gudang Garam Tbk, tapi manajemen pabrik rokok ini
enggan mengakui. Kabag Humas PT Gudang Garam Yuli saat dikonfirmasi
cenderung menutupinya. “Maaf mas , saya benar-benar tidak bisa
menjelaskan soal pengiriman cengkeh dan tembakau tersebut,” tutur Yuli,
kemarin.

Disinggung soal 60 kontainer bermasalah, Yuli mulai kelabakan. “Coba
nanti saya cek dulu-lah. Saya tidak bisa memberikan keterangan kalau
tidak melihat sendiri,“ kilah Yuli.

Sementara itu, sumber karyawan PT Gudang Garam di unit IX bagian
tembakau, yang ditemui Surabaya Pagi mengatakan, biasanya kiriman
cengkeh atau tembakau yang masuk gudang tidak mungkin dibiarkan berada
di dalam kontainer. “Nggak ada kontainer segelan yang ada di Gudang
Garam sekarang. Beberapa waktu lalu memang datang kontainer berisi
cengkeh dan tembakau, tapi langsung dibongkar,“ ungkap sumber ini yang
meminta identitasnya dirahasiakan.

Ia menambahkan, saat ini memang ada salah satu gudang di unit IX milik
PT Gudang Garam yang disegel Bea Cukai. “Tapi bukan kontainernya yang
disegel, tapi gudang tembakaunya. Sebab, tembakau tersebut sudah
dibongkar dan diturunkan dari kontainer beberapa waktu lalu. Setelah
itu beberapa hari kemudian pihak Bea Cukai datang ke PT. Gudang Garam
dan melakukan penyegelan,“ papar dia. n ak

http://www.surabaya pagi.com/ index.php? p=detilberita& id=47372


Read More......

Generasi Daring

Oleh: Sonny Wibisono *

"Siang malamku selalu menatap layar terpaku untuk online online online
online."
-- Saykoji dalam 'Online'

AKHIR pekan silam Bimo sengaja membawa pekerjaan kantor ke rumah. Senin ada
rapat penting. Dia harus siap dengan presentasi di depan bos besarnya. Namun
jangankan bisa bekerja. Dia malah diganjal kesal tapi dia tidak bisa berbuat
apa-apa.

Riri, anak terbesarnya menguasai laptopnya. Kebetulan, komputer di rumahnya
memang sedang rusak. Si putri sulung yang duduk di bangku kelas tiga sekolah
dasar itu asyik bercengkerama dengan teman-teman sekolah di situs jejaring
sosial facebook. Apes, Riri tak kenal waktu. Namun Bimo juga tak bisa
membujuknya. Dia tak mau mengecewakan anaknya.

Meski akhirnya Bimo berhasil menyelesaikan tugasnya. Namun dia masih merasa
kesal dengan kelakuan anaknya. Di kantor saja dia tidak begitu suka bila
melihat rekan kerjanya yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan
membuka berbagai situs jejaring sosial. Membuka situs tersebut boleh-boleh
saja, tapi kenapa harus seharian? Begitu pikir Bimo.

Aneh memang. Kebanyakan temannya itu mengobrol atau memberikan komentar
status rekannya yang tak lain teman satu kantor juga. Bimo geleng-geleng
kepala. "Kayak enggak ada pekerjaan saja." ledek Bimo ke rekan kerjanya.

Beragam situs jejaring sosial memang merambah Indonesia, sebut saja:
Facebook, Twitter, MySpace, Multiply, Plurk, Hi5, dan Tagged. Bimo sama
sekali tidak anti dengan situs jejaring sosial. Dia mengaku banyak bertemu
kembali dengan teman-teman lamanya tak lain karena situs tersebut. Namun
menghabiskan waktu seharian hanya untuk itu, ya itu, dia tak setuju.

Demam situs jejaring sosial memang tengah menjadi trend. Paling tidak sejak
tiga tahun lalu. Lihat saja statistik yang diambil dari Facebook Usage
Figures. Tercatat pada Juli 2009 saja pengguna facebook di Indonesia naik
hampir 3000% atau 30 kali lipat dibandingkan bulan yang sama tahun
sebelumnya. Luar biasa. Itulah data tertinggi di seluruh dunia.

Ya, aneh betul di zaman kayak gini, istilah anak muda Jakarta, bila tidak
memiliki akun facebook atau twitter. Banyak artis di sana. Bisa paling dulu
tahu apa yang dilakukan artis itu ketimbang berita di infotainment.

Para pelaku bisnis pun mencium peluang cantik. Sebuah telepon dibuat online
sepanjang hari. Paket online atau apa pun namanya laku di pasaran.
Masyarakat pada akhirnya tercipta ketergantungannya pada situs jejaring
sosial itu. Itulah yang membuat Bimo tak habis pikir.

Sampai akhirnya, di sebuah siang yang panas. Jalanan macet luar biasa. Bimo
dan temannya mendapatkan tugas untuk bertemu dengan calon kliennya, hampir
saja ikut terjebak dalam kemacetan itu kalau saja dia tidak menuruti
perintah temannya itu.

Awalnya, dia tidak setuju dengan perintah itu. Apalagi setelah tahu info
soal kemacetan itu didapatkan dari jejaring sosial twitter. Ah, ngawur, kata
Bimo, sambil memindahkan saluran radio yang kerap mengabarkan situasi lalu
lintas di Jakarta. Tapi kabar di radio untuk mengetahui kebenaran berita
tersebut tak kunjung ia temukan.

Dari mulut si teman itu pula mengalir berbagai info yang belum Bimo ketahui.
Tragedi Priok berdarah pertengahan April lalu misalnya. Para tweep, istilah
bagi para pengguna twitter, yang tidak menonton televisi dan yang berada di
luar negeri, mengetahui dari menit ke menit peristiwa Priok berdarah.
Termasuk juga berita meletusnya Gunung Eyjafjallajokull di Islandia, yang
menyebabkan hampir semua penerbangan di Eropa terganggu.

Zaman sekarang adalah masanya daring (online) atau dalam jaringan.
Perusahaan sekelas Starbucks, Dell, dan lainnya memanfaatkan layanan mikro
blogging twitter untuk mengetahui apa yang dipikirkan oleh pelanggan
mengenai produk mereka sehingga menjadi bahan masukan yang berharga.

Dinas Rahasia Inggris, MI-5 bahkan akan memecat agennya yang tidak melek
facebook dan twitter. Hal ini mengingat, seperti dikutip harian Daily Mail
awal bulan ini, penggunaan situs jejaring sosial seperti facebook dan
twitter oleh para teroris dalam melancarkan aksinya kian meningkat. MI-5
bahkan berencana akan membuka rekrutmen dan mencari para lulusan komputer.

Walau tak dituntut seperti agen rahasia Inggris, yang harus mengikuti
perkembangan di luar dengan seksama, belakangan Bimo menjadi lebih sering
membuka situs-situs jejaring sosial. Namun dia tetap ingat waktu. Paling
tidak, bila ia ingin pergi dan pulang dari kantor, ia akan melihat
perkembangan lalu lintas para tweep melalui perangkat ponselnya. Kalau
terjadi peristiwa besar, dia pun memelototi perkembangannya.

Dia pun lebih selektif memilih nama-nama dalam list twitternya. Mana yang
penting atau yang sekadar basa-basi. Mem-follow artis? Dia jengah bila hanya
membaca tweet si artis yang menceritakan makan bakso.

Baginya, online penting, karena segudang manfaat didapatkan, tapi pekerjaan
dan berkomunikasi langsung dengan orang-orang di sekitarnya jauh lebih
memiliki urgensi. Betul. Karena kehidupan yang sesungguhnya ada di luar
sana, bukan terkurung dalam layar komputer.

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media
Komputindo, 2009


Read More......

Tujuan Pendidikan Belum Maksimal Tercapai

Tujuan pendidikan Indonesia yang berupaya agar
terciptanya manusia seutuhnya dinilai belum tercapai secara maksimal dan
bahkan masih jauh dari harapan.

Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara RE Nainggolan di Medan, Selasa
[20/04] , mengatakan, jika ditelusuri dengan seksama tujuan dari pendidikan
nasional seperti yang termaktub dalam Undang-undang Sisdiknas, begitu
sempurna potensi yang ingin ditanamkan dalam diri anak untuk menjadi manusia
Indonesia yang seutuhnya.

Tapi kenyataan yang masih terlihat di tengah-tengah kehidupan sosial
masyarakat dapat disaksikan begitu banyak generasi-generasi muda yang
perilakunya menyimpang dari harapan yang ingin dicapai.

“Zaman yang memutar kehidupan memang selalu membawa perubahan dalam
kehidupan manusia, namun perubahan itu juga membutuhkan respon dan daya
tangkap dari kita semua, dan itu semua harus disikapi dengan bijaksana dan
jiwa yang lurus,” katanya.

Ia mengatakan, salah satu yang saat ini perlu dilakukan adalah bagaimana
agar perilaku menyimpang yang banyak dilakukan generasi muda saat ini dapat
ditekan atau dapat diminimalisasi.

Salah satunya adalah dengan pendidikan karakter. Ini sangat penting dalam
rangka terbentuknya karakter peserta didik yang kuat dan menciptakan
generasi yang berilmu, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

“Apabila pembangunan karakter ini dibangun dengan baik, maka peserta didik
dapat memiliki berbagai kecerdasan, baik kecerdasan spritual, emosional dan
sosial,” katanya.

Namun, lanjut dia, efektivitas pendidikan karakter akan tercapai jika tidak
hanya dilakukan oleh lembaga pendidikan saja, namun juga melibatkan lembaga
lainnya seperti lembaga keagamaan, masyarakat, pelaku usaha, media dan
keluarga sebagai pihak yang terkait langsung dengan pendidikan anak.

Mengingat keberadaan pendidikan karakter mempunyai andil yang cukup besar
bagi sistem pendidikan di Indonesia, diharapkan semua pihak dituntut
proaktif, di antaranya dengan menanamkan pendidikan karakter sejak awal dan
tauladan sebagai bentuk pembelajaran bagi peserta didik.

“Pengembangan karakter yang diperoleh melalui pendidikan, baik pada tingkat
sekolah maupun perguruan tinmggi dapat mendorong mereka menjadi anak-anak
bangsa yang memiliki kepribadian unggul seperti yang diharapkan dalam tujuan
pendidikan nasional,” katanya.

Harus Selaras Dengan Budaya

Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, RE Nainggolan, mengatakan,
pendidikan karakter yang akan diajarkan bagu peserta didik harus selaras
dengan budaya bangsa Indonesia.

“Pendidikan karakter bagi peserta didik perlu didesain, diformulasikan dan
dioperasikan melalui transformasi budaya dan kehidupan sekolah,” katanya
saat membuka Sarasehan Nasional Pendidikan Karakter di Medan, Selasa.

Oleh karena itu, lanjut dia, dirasakan perlunya membangun wacana dan sistem
pendidikan karakter bagi siswa yang sesuai dengan konteks sosial kultural
Indonesia yang Ber Bhineka Tunggal Ika.

Kalau karakter peserta didik sudah dibangun berdasarkan konsep budaya
Indonesia, maka kekhawatiran akan masuknya budaya-budaya asing yang tidak
sesuai dengan budaya Indonesia dengan sendirinya akan tersaring oleh
karakter bangsa yang sudah terbangun

Ia mengatakan, pendidikan karakter sangat penting dalam rangka terbentuknya
karakter peserta didik yang kuat dan kokoh, untuk menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa serta berahklak mulia.

Pendidikan karakter juga diharapkan dapat menciptakan generasi yang berilmu,
cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggungjawab, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

“Oleh sebab itu, saya sangat menyambut positif dan mengapresiasi diadakannya
sarasehan seperti ini. Hal ini karena apabila pembangunan karakter ini
dibangun dengan baik, maka peserta didik dapat memiliki berbagai kecerdasan,
baik kecerdasan spritual, emosional dan sosial,” katanya.

Koordinator Kopertis wilayah I Sumut-Aceh, Prof. Zainuddin dalam kesempatan
yang sama mengatakan, peristiwa perseteruan yang terjadi di berbagai daerah
di Indonesia dewasa ini menjadi tanggung jawab pendidikan nasional untuk
menggugah kesadaran dan menumbuhkan perhatian masyarakat terhadap pentingnya
pendidikan karakter.

Oleh karena itu, Mendiknas berupaya untuk membentuk grain desain pendidikan
karakter di Indonesia. Pendidikan karakter sangat penting dalam rangka
terbentuknya karakter peserta didik yang kuat dan kokoh.

Kemudian menjadikan manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

“Melihat situasi dan kondisi saat ini yang dihadapi bangsa Indonesia,
tampaknya pendidikan karakter perlu ditransformasikan sejak dini, yakni
sejak pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan
pendidikan tinggi. Proses pendidikan karakter ini perlu diberikan secara
holistik dan terus-menerus,” katanya. (ant


Sumber
Medan ( Berita )

Read More......

280 Anak di Kampung Cijantur Bogor Tidak Sekolah

Sekitar 280 anak usia sekolah di Kampung Cijantur RW 06,
Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, Btak bersekolah. Jarak sekolahnya yang jauh
atau sekitar 7 Km dengan jalan kaki membuat anak-anak sekolah engga sekolah.

“Kami mau sekolah, seperti anak-anak di kota, tapi ogah, malas, jauh
sekolahnya dari rumah,” cetus Ujang, 12, saat sedang bermain dengan teman
sebaya, Rabu. “Sudah jauh jalan kaki pula” timpal Encup, bocah lainnya.

Bocah-bocah ini belajar di satu gedung yang dinamakan Pusat Kegiatan Belajar
Masyarakat (PKBM) yang merupakan cabang dari desa lain. Gedung ini dibangun
warga dari bantuan dana PNPM 2009 lalu.

“Dua bangunan kami bangun dari dana PNPM setelah adanya persetujuan dari
warga buat belajar anak-anak sekampung,” ujar Ketua Bambang, Ketua RT 04 RW
06 Kampung Cijantur. Diakuinya, hampi 90 persen warganya kurang mampu dengan
mengaantungkan sebagai penggali pasir dan tanah.

Kepala Desa Rabak, Herman, mengatakan, pihaknya telah berupaya mengusulkan
ke Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor untuk dibangunkan sekolah di Kampung
Cijantur. “Kami sedang mendata anak usia sekolah sesuai dengan tingkatannya.
Untuk berjalannya sekolah jarak jauh, kami koordinasi dengan Unit Pelakasan
Teknis Disdik Kecamatan Rumpin,” katanya.

Camat Rumpin Wahyu Hadi S mengakui telah berupaya agar anak-anak sekampung
itu bisa melanjutkan sekolah. “Kami sedang mengupayakan sekolah jarak jauh
di Kampung Cijantur untuk ditingkatkan stastusnya, dari sekolah PKBM menjadi
sejajar dengan sekolah sekolah SD lain,” kata camat yang baru menjabat empat
bulan .

Humas Disdik Kabupaten Bogor Roni Rusmayana mengakui sudah menerima
permintaan dibangunnya sekolah di sektar kampung tersebut. Namun
terbenturnya dana, pihaknya lalu mengajukan sekolah jarak jauh dengan
menginduk di sekolah yang terdekat. “Usulan sekolah jauh sudah disetujuui,
tahun ajaran 2010/2011 akan dimulai,” katanya serya menyebutkan sekolah
jarak jauh hanya seminggu seklai sekolah. (iwan/B)



Sumber
BOGOR (Pos Kota)

Read More......

Kejaksaan Selidiki Proyek PSB Online Diduga Berbau Korupsi

KEJARI SURABAYA - Dugaan penyelewengan dana PSB Online sebesar Rp 2,3 miliar mulai dibidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya. Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Abdul Aziz mengaku sedang mengumpulkan bukti-bukti dan data konkrit atas kasus ini.

“Kita masih dalam tahap mengumpulkan data saat ini, kalau memang ada bukti konkritnya kita siap menindklanjutinya,” ujar Abdul Aziz.

Sejauh ini kata Aziz, pihaknya masih belum bisa menentukan pelanggaran hukum atas kasus ini dan belum menyimpulkan siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban dalam kasus ini.

“Masih belum bisa kita tentukan siapa yang harus bertanggung jawab dan bentuk pelanggarannya. Semua butuh proses, tidak serta merta langsung bisa kita simpulkan,” tambahnya.

Adanya dugaan bahwa kasus ini menyalahi aturan pengadaan barang dan jasa karena proses lelang dilakukan secara penunjukan langsung, Aziz menyatakan bahwa hal itu perlu dikaji lebih dalam.

“Siapa yang menyimpulkan seperti itu, semua perlu dilakukan penyelidikan. Jadi tidak bisa kita langsung menyimpulkan pelanggaran hukumnya,” tegasnya.

Sementara itu, Kadis Pendidikan Kota Surabaya, Sahudi saat dikonfirmasi mengaku jika proyek yang dilakukan pihaknya sudah melalui jalur yang sesuai prosedur. "Saya memakai prinsip swakelola yang sudah dicantumkan pada Keppres 80 pasal 39. Sehingga tidak ada alasan kami melanggar aturan tender proyek dengan tidak menggelar lelang terbuka," katanya.

Sahudi yang juga mantan kepala sekolah SMUN 15 Surabaya ini mengungkapkan jika program PSB online sudah disampaikan pada rapat penyusunan anggaran dengan DPRD Surabaya.

Saat ditanya penunjukan dua Perguruan Tinggi Negeri (PTN), yakni Universitas Negeri Surabaya (Unnesa) dan Institut Teknologi Surabaya (ITS) dalam pembuatan situs itu, Sahudi mengaku jika kedua PTN tersebut banyak membantu Dinas Pendidikan dalam mengembangkan program pendidikan.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, proses PSB Online yang memakan anggaran Rp 2.3 Milyar dikeluhkan banyak masyarakat karena ternyata usah diakses. Bahkan sempat trouble dan tak bisa diakses selama beberapa waktu. Meski Komisi D DPRD Surabaya sempat memanggil Sahudi, masalah ini masih belum jelas solusinya. uci/zul


Read More......

Cium Bau Korupsi, Kejaksaan Selidiki Proyek PSB Online

Surabaya - Ngadatnya situs Penerimaan Siswa Baru (PSB) berbuntut panjang. Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya menduga proyek Penerimaan Siswa Baru online senilai Rp 2,3 miliar itu berbau korupsi.

Dugaan ini karena pembuatan situs itu tidak dilakukan melalui lelang, namun berdasarkan penunjukan langsung yang dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Namun kasus dugaan korupsi ini sampai saat ini masih didalami oleh Kejari Surabaya.

"Kita masih tunggu laporan kongkrit dan ini masih dugaan atau pengumpulan bahan dan
keterangan (Pulbaket)," kata Kepala Kejari Surabaya, Abdul Azis kepada wartawan di kantor Kejari Surabaya, Jalan Raya Sukomanunggal Jaya, Senin (29/6/2009).

Ketika ditanya apakah keputusan langsung itu melanggar Keputusan Presiden Nomer 80 Tahun 2003 tentang pedoman pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah. Aziz pun langsung membantahnya, "Itu kan kata sampean (kamu)," jawabnya singkat.

Sementara itu, Kadis Pendidikan Kota Surabaya, Sahudi saat dikonfirmasi mengaku
jika proyek yang dilakukan pihaknya sudah melalui jalur yang sesuai prosedur. "Saya memakai prinsip swakelola yang sudah dicantumkan pada Keppres 80 pasal 39. Sehingga tidak ada alasan kami melanggar aturan tender proyek dengan tidak menggelar lelang terbuka," katanya saat dihubungi detiksurabaya. com.

Sahudi yang juga mantan kepala sekolah SMUN 15 Surabaya ini mengungkapkan jika program PSB online sudah disampaikan pada rapat penyusunan anggaran dengan DPRD Surabaya.

Saat ditanya penunjukan dua Perguruan Tinggi Negeri (PTN), yakni Universitas Negeri Surabaya (Unnesa) dan Institut Teknologi Surabaya (ITS) dalam pembuatan situs itu, Sahudi mengaku jika kedua PTN tersebut banyak membantu Dinas Pendidikan dalam mengembangkan program pendidikan. (bdh/bdh)

http://surabaya. detik.com/ read/2009/ 06/29/175056/ 1155991/466/ cium-bau- korupsi-kejaksaa n-selidiki- proyek-psb- online

Read More......

Diduga, Program Dinas Pendidikan Kota Surabaya Melanggar Aturan

SURABAYA - Permasalahan PSB (penerimaan siswa baru) online bukan hanya sebatas sistemnya yang dianggap amburadul. Diduga, program Dinas Pendidikan Kota Surabaya itu juga melanggar aturan karena tidak melalui tender. Padahal, nilai proyeknya lebih dari Rp 50 juta.

Diperoleh informasinya bahwa untuk program PSB online, Dispendik mengalokasikan dana Rp 120 juta. Proyek itu kemudian dikerjakan tim dari ITS. Sesuai dengan aturan di Keppres 80/2003, proyek bernilai lebih dari Rp 50 juta harus melalui proses lelang. Namun, untuk PSB online, Dispendik melakukan penunjukan langsung.

Dugaan pelanggaran PSB online tersebut kemarin dibahas dalam hearing di Komisi D DPRD Surabaya. Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Sahudi menghadiri undangan anggota
dewan.

Namun, kepada dewan, Sahudi enggan berkomentar banyak mengenai proyek PSB tersebut. Termasuk berapa besar dana proyek itu. Lantaran begitu tertutupnya, tersangka kasus korupsi pengadaan mikroskop itu mengaku lupa anggaran PSB online. ''Saya lupa. Saya kira, tidak jauh dari tahun-tahun sebelumnya,' ' kata Sahudi.

Otomatis, jawaban itu membuat anggota dewan kesal. ''Masak seorang kepala dinas
lupa dengan dana yang digunakan untuk PSB. Ini aneh sekali,'' kata anggota Komisi D Yuzuar Datok Marajo dengan nada tinggi.

Menurut dia, seorang pejabat publik seharusnya transparan. Termasuk mengenai alokasi dana. Bahkan, Yuzuar menilai orang nomor satu di Dispendik itu tidak serius melakukan hearing meskipun mendatangi undangan dewan.''Harusnya, Anda menyiapkan semua keperluan sebelum melakukan hearing,'' ujarnya.

Dalam rapat komisi itu, Yuzuar mengatakan, selama ini dewan memang mendengar kabar bahwa proyek PSB online tidak melalui proses tender. Dispendik langsung menunjuk tim ITS. Padahal, perguruan tinggi lain di Surabaya punya kapasitas untuk mengerjakan
proyek tersebut. Yuzuar lantas menyebutkan bahwa Universitas Airlangga (Unair) seharusnya juga diberi kesempatan yang sama. "Proyek PSB bukan termasuk kategori khusus. Perguruan tinggi lain juga bisa menggarap proyek ini," ucap kader PAN tersebut.

Selama hearing, Yuzuar yang memang paling vokal bertanya kepada Sahudi. Anggota dewan lain justru banyak membahas hal lain. Misalnya, bagaimana agar PSB online di
masa mendatang tidak karut-marut seperti saat ini.

Contohnya, Ketua Komisi D Ahmad Jabir. Kader PKS yang biasanya vokal tersebut hanya mengatakan bahwa dewan tidak setuju ada penambahan dana untuk proyek PSB online.

Setelah hearing, Sahudi yang dikonfirmasi wartawan masih enggan memberikan komentar. Ketika ditanya mengapa Dispendik melakukan penunjukan langsung, dia tidak memberikan jawaban gamblang. "Lihat saja keppres 80," ucap Sahudi sambil berjalan meninggalkan gedung dewan. (fid/dos)

http://gerakankonsu men.blogspot. com/2009/ 06/diduga- program-dinas- pendidikan- kota.html

Read More......

Hanya Dua Hari Periksa Tender, Polwiltabes Turunkan Tim

SURABAYA - SURYA-Wali Kota Bambang DH hanya memberi jatah dua hari bagi Inspektorat Kota Surabaya untuk menyelesaikan klarifikasi tender PSB online. Waktu yang mepet ini disinyalir untuk mempersempit gerakan lembaga ini saat memeriksa semua yang terkait dengan tender PSB online. “Inspektorat bidangnya memang itu. Jadi tidak perlu waktu lama apalagi untuk masalah-masalah yang jadi perhatian publik,” kata
Bambang, Senin (29/6). Bagi Bambang, sorotan dewan karena PSB online tidak ditenderkan membuat kuping gatal. Karena itu dia minta lembaga yang diketuai Hadisiswanto Anwar ini bekerja sangat cepat. “Saya sudah meminta inspektorat turun memeriksa kebenaran yang mengemuka lewat media. Apakah yang disampaikan media itu sesuai aturan atau tidak,” kata Bambang.

Diakui Bambang, alasan khusus yang dipakai Dinas Pendidikan (Dindik)Surabaya untuk menunjuk langsung rekanan dalam proyek PSB online ini memang diatur dalam kepres tentang pedoman pelaksana pengadaan barang dan jasa pemerintah. Apakah proyek PSB online masuk kategori khusus, itu yang perlu diteliti inspektorat. Hadisiswanto mengaku sudah menandatangani surat permintaan klarifikasi kepada Kadindik Sahudi. Hadi juga sudah menghubungi Sahudi lewat telepon. “Pak Sahudi sudah memberikan keterangannya namun klarifikasi tertulis tetap harus dilakukan,” kata Hadi, Senin (29/6).

Hadi belum bisa memastikan kapan pemeriksaan PSB online ini selesai padahal dia hanya punya waktu dua hari. Tidak dilelangnya proyek PSB online ini diakui Kadindik Sahudi usai dengar pendapat dengan Komisi D DPRD Surabaya Jumat (26/6). Sahudi beralasan PSB online termasuk situasi khusus dan langkahnya itu sudah sesuai dengan Kepres 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

Polwiltabes Surabaya langsung merespons kasus ini. Kemarin sudah diterjunkan tim untuk menyelidiki kemungkinan penyimpangan terkait rusaknya sistem PSB online yang dilaksanakan Dindik Surabaya. Diungkapkan Kapolwiltabes Surabaya, Kombes Pol Ronni F Sompie, Senin (29/6), mengakui setelah kasus ini mencuat, sejumlah anggotanya sudah
diterjunkan untuk pengumpulan data dan penyelidikan. “Kami sudah lakukan pengumpulan informasi dan pendalaman,” ujarnya di sela pemusnahan barang bukti narkoba dan miras di Polwiltabes kemarin.

Menurutnya kasus ini bisa jadi tidak hanya ditangani Polwiltabes, tetapi Polda Jatim atau kejaksaan bisa turun tangan. uus/iit

http://www.surya. co.id/2009/ 06/30/hanya- dua-hari- periksa-tender- polwiltabes- turunkan- tim.html


Read More......

PSB Online Tanpa Tender, Inspektorat Turun Tangan

SURABAYA - SURYA-Tidak adanya lelang dalam proyek PSB online langsung direaksi Inspektorat Kota Surabaya. Institusi yang sebelumnya bernama Badan Pengawas Kota ini akan turun meneliti. “Kami akan klarifikasi dulu. Kalau memang nanti hasilnya ada indikasi yang tidak benar ya tentu akan dibentuk tim khusus,” kata Hadisiswanto Anwar, Inspektur Kota Surabaya, Minggu (28/6).

Siap memanggil Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Kota Surabaya, Sahudi? Hadi mengaku tidak segan memanggilnya. “Siapa pun itu kalau ada kaitannya tentu akan kami mintai keterangan,” ujarnya. Hari ini, Senin (29/6), Hadi mulai mengklarifikasi.
Anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya, Akhmad Suyanto, mendukung langkah inspektorat meneliti masalah ini. Dia melihat dalam kasus ini telah ada discontinuitas (kemandekan) pelayanan publik. ”Ini harus dicari penyebabnya. Kalau memang ada apa-apanya tentu harus didudukkan pada aturan yang ada,” kata Suyanto. Komisi A, lanjutnya, akan mengkaji masalah ini termasuk aturan-aturan lelang yang ada. Sumber yang diterima Surya, anggaran untuk PSB online ini sekitar Rp 130 juta yang
berarti harus dilakukan lelang.

Sebelumnya Sahudi mengatakan tidak adanya lelang dalam proyek PSB online ini karena situasi khusus. Namun Sahudi tidak menjelaskan situasi khusus yang dimaksud. Dia hanya beralasan langkahnya itu sudah sesuai dengan Kepres 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. “Aku gak hafal, deloken
(lihatlah) Kepres 80 sajalah,” kata Sahudi. Dipilihnya ITS sebagai pelaksana proyek ini menurut Sahudi karena sudah ada kesepakatan antara Wali Kota Surabaya dengan ITS.
Ditanya berapa anggaran untuk proyek ini, dengan enteng pejabat terlama di Dindik ini mengaku lupa. Jawaban lupa ini juga menjadi senjata Sahudi saat ditanya komisi D dalam dengar pendapat, Jumat (26/6). “Saya tidak bawa datanya,” alasannya.

Dekan Fakultas Teknologi Informatika ITS, Riyanarto Sarno, dan Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ITS Imam Prayogo, beberapa waktu lalu menyatakan posisi ITS dalam PSB online yang digelar Dindik Surabaya hanyalah sebagai penyedia tenaga ahli untuk menyediakan dan melaksanakan aplikasi. “Benar ada kontrak kerja sama tapi kami tidak mendapat tugas menyediakan prasarana atau
mengumpulkan data,” ujar Imam. uus/rey

http://www.surya. co.id/2009/ 06/29/psb- online-tanpa- tender-inspektor at-turun- tangan.html


Read More......

BSNP: Putusan MA Tak Pengaruhi Ujian Nasional

Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Prof Mungin Eddy Wibowo mengatakan, putusan Mahkamah Agung (MA) yang melarang pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tak mempengaruhi penyelenggaraan UN pada 2010.

"Kami akan tetap menyelenggarakan UN pada 2010 sesuai dengan jadwal yang ditetapkan dan hal itu juga telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan," katanya saat dihubungi dari Semarang, Rabu.

Menurut dia, sesuai dengan amanat PP Nomor 19/2005 tersebut, BSNP berkewajiban untuk menyelenggarakan UN bekerja sama dengan berbagai pihak, antara lain pemerintah, pemerintah daerah, setiap satuan pendidikan, termasuk kalangan perguruan tinggi.

Penyelenggaraan UN 2010 menurut dia, juga didasari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 75/2009 tentang UN tingkat SMA dan SMP, serta Permendiknas Nomor 74/2009 tentang Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) untuk SD.

Ia mengatakan, sesuai PP Nomor 74/2009 tersebut, UN tingkat SMA, MA, dan SMK 2010 akan diselenggarakan pada minggu ketiga Maret 2010 mendatang, sedangkan UN untuk SMP akan diselenggarakan satu minggu setelah pelaksanaan UN tingkat SMA, MA, dan SMK.

"Kami memang mengakui dalam penyelenggaraan UN terdapat berbagai tindak kecurangan, namun kami tetap melakukan evaluasi dan perbaikan berkaitan dengan penyelenggaraan UN setiap tahunnya," kata guru besar Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu.

Berkaitan dengan putusan MA itu, Mungin mengatakan, pihaknya akan mempelajari putusan MA terkait penolakan kasasi perkara UN yang diajukan pemerintah, sebab pihaknya hingga saat ini belum mendapatkan salinan resmi putusan MA tersebut.

Mungin menilai, penyelenggaraan UN secara obyektif, transparan, dan akuntabel tetap diperlukan, sebab hasilnya dapat digunakan untuk memetakan mutu pendidikan secara nasional, menentukan kelulusan, dan digunakan dalam seleksi masuk ke perguruan tinggi.

"Namun, UN hanya salah satu indikator penentu kelulusan, sebab masih ada beberapa indikator lain yang menjadi penentu kelulusan selain UN, seperti ujian akhir sekolah (UAS)," kata Mungin.

Perkara itu bermula dari "citizen lawsuit" (gugatan warga negara) yang diajukan Kristiono dan kawan-kawan terhadap presiden, wakil presiden, Menteri Pendidikan Nasional, dan Ketua BSNP yang dinilai lalai memenuhi kebutuhan hak asasi manusia (HAM) di bidang pendidikan.

Pada peradilan tingkat pertama di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, gugatan tersebut diterima. Pengadilan Tinggi Jakarta menguatkan putusan itu pada 6 Desember 2007. Pemerintah lalu mengajukan kasasi ke MA.

Akhirnya, MA melarang UN yang digelar Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), sebab kasasi gugatan UN yang diajukan pemerintah ditolak MA. MA memutuskan menolak kasasi perkara itu dengan nomor register 2596 K/PDT/2008 yang diputus pada 14 September 2009.(*)
COPYRIGHT © 2009


Sumber
Semarang (ANTARA News)
Read More......

Lagi Tentang UN, Jangan Paksa Kami !

ENTAH tulisan ini mau digolongkan jenis tulisan apa, saya tidak peduli. Saya juga tidak ambil pusing kalau karena tulisan ini saya dan kawan-kawan dicap merengek-rengek, manja atau apa pun. Yang saya mau dengan tulisan ini hanyalah agar “yang empunya kuasa” di pusat kekuasaan, mau membuka mata dan hati untuk peduli pada kondisi real yang kami alami di pelosok Indonesia ini.

Saya adalah seorang guru pada sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD, NTT).

Cita-cita untuk menjadi guru yang kemudian menjadi kenyataan tampaknya sudah merupakan “warisan” dari ayah saya Aloysius Bulu Malo (alm) yang sampai akhir hayatnya tetap mencintai profesinya sebagai guru.

Tidak hanya itu, almarhum berhasil “menjerumuskan” kami enam orang anaknya untuk menjadi guru. Dengan demikian, yakinlah, profesi guru telah menjadi panggilan kami.

Jadi jelaslah, bahwa kepedulian yang saya maksud di atas bukanlah rengekan agar saya dan teman-teman guru dimanjakan dengan berbagai fasilitas atau gaji yang berlipat-lipat sehingga kami pun bisa patantang patenteng dengan aneka barang mewah.

Atau bukan agar kami bisa jalan-jalan alias pelesir ke kota-kota besar untuk mencari hiburan seperti yang kerap kali dipertontonkan oleh para wakil rakyat.

Tidak! Bukan itu!

Saya ingin kita realistis dengan situasi bangsa ini yang masih merayap-merangkak, dalam hal ini di bidang pendidikan. Bahwa ada daerah atau sekolah tertentu yang sudah mengalami kemajuan luar biasa dalam pendidikan, tak bisa disangkal. Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa masih sangat banyak daerah atau sekolah yang situasinya sangat memprihatinkan dalam berbagai segi.

Tahun lalu saya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditempatkan sebagai guru mata pelajaran Bahasa Inggris di sebuah SMK di Kecamatan Kodi, SBD, NTT.

Semoga saya saja yang apes! Saya kebagian mengajar murid-murid yang pengetahuan Bahasa Inggrisnya sangat menyedihkan. Jangankan berbicara soal tenses atau grammar meski yang paling sederhana. Kemampuan mereka dalam menguasai bilangan 1 sampai 20 atau huruf A sampai T saja sangat menyedihkan.

Saya lalu merasa berada di persimpangan: mau ikut kurikulum atau ikut anak. Ikut tuntutan kurikulum berarti menutup mata dengan kondisi anak. Ikut kondisi anak, berarti menelantarkan kurikulum. Contoh ini baru menyangkut Bahasa Inggris. Nasib yang sama dialami oleh para guru mata pelajaran lain.

Guru Masak di Bawah Pohon

Karena sekolah ini baru dua tahun berdiri, para guru di sini masih tergolong muda atau fresh graduate. Mereka adalah sarjana dari beberapa universitas baik di Jawa maupun dari universitas di NTT sendiri. Semangat guru-guru muda ini masih besar dan bahkan menggebu-gebu.

Karena itu, meskipun sangat tidak kondusif, saya dan teman-teman menuruti anjuran Kepala Sekolah agar kami tinggal di kompleks sekolah. Sang kepala sekolah khawatir, jika kami ngelaju dari rumah masing-masing, akan banyak tugas yang terganggu sebab kami menempuh jarak yang cukup jauh.

Tentu saja, pemenuhan terhadap ajakan Kepala Sekolah bukan tanpa risiko. Jangan membayangkan kami tidur nyaman di atas spring bed. Jangan juga pikir kami akan menyediakan atau mengolah makanan dengan peralatan dapur modern berikut air kran yang bisa mengalir setiap saat. Percaya atau tidak, kami sangat jauh dari itu semua.

Mungkin para pejabat di Jakarta tidak percaya bahwa kami para guru harus tidur di ruang kelas beralaskan kursi atau bangku siswa. Mungkin, sulit juga dipercaya bahwa karena tidak ada dapur, kami harus masak dengan kayu bakar di bawah pohon.

Beberapa kali terjadi, saat priuk nasi sedang duduk santai di atas batu tungku dan baru mendidih, tiba-tiba hujan. Kami harus buru-buru mengangkat priuk untuk dilarikan ke teras sekolah padahal nasi dalam priuk belum matang. Sambil menahan perut lapar, kami hanya bisa mengurut dada sebab beras pasti gagal menjadi nasi.

Saya khususnya, memang terbiasa hidup dengan fasilitas yang terbatas. Tapi keadaan tersebut sangat “extraordinary”. Kami hidup tanpa listrik, air jauh, dan kerap kali sangat terganggu oleh pencuri.

Yang paling banyak berpesta dengan keprihatinan kami adalah nyamuk. Dan siapa pun tahu, Sumba adalah sarang nyaman bagi nyamuk malaria. Hampir pasti, setiap hari ada orang yang meninggal akibat sakit malaria.

Nah, bagaimana mau mengharapkan hasil Ujian Nasioanl (UN) yang kompetitif dari situasi ini? Kami bukan tidak mau berjuang. Bahwa bersedia tidur di sini dan hidup “terlantar”, ini sudah perjuangan meski belum seberapa. Namun perjuangan yang belum seberapa ini sudah cukup memberi gambaran bahwa kondisi real kami sama sekali tidak bisa disamakan dengan kondisi real yang ada di tempat lain, Jakarta misalnya.

Penentuan standar kelulusan yang sama secara nasional berikut soal atau bobot soal yang sama untuk semua siswa dan sekolah dalam kondisi apa pun di seluruh Indonesia, merupakan bentuk konkret paling jelas dari penyamarataan secara membabibuta. Belum lagi soal pembebasan sekolah dari hak menentukan kelulusan. Di mata saya, penyamarataan ini jelas merupakan sebuah penghinaan di satu sisi dan penyiksaan di sisi lain.

Ya, penghinaan bagi siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah terbaik di Jakarta karena kemampuan atau kecerdasan mereka disamakan dengan siswa di pelosok. Lalu menjadi siksaan tak berperikemanusiaan bagi siswa di pelosok-pelosok karena mereka dipaksa memiliki kemampuan yang sama dengan teman-teman mereka yang beruntung di Jakarta.

Jadi, dari hati yang paling dalam, mohon kiranya para pengambil keputusan sekali-sekali turun langsung melihat sendiri kondisi yang ada. Saya khawatir, prinsip menunggu laporan masih sangat menguasai para pejabat di bidang ini. Akibatnya, keputusan diambil berdasarkan laporan yang tidak akurat.

Kalau sudah melihat sendiri dari dekat, pasti merasakan denyut yang ada. Dari sini akan muncul keputusan yang lebih bijak.

Kalau pun nanti UN tetap diberlakukan, ia bukan penentu kelulusan. UN bisa dipakai sebagai alat ukur untuk mengetahui sejauh mana kemajuan yang terjadi pada sebuah daerah. Dari situ dilakukan perbaikan yang sifatnya kontekstual.

Leonardus Dapa Loka

Penulis adalah seorang guru di Sumba Barat Daya, NTT, alumni Pendidikan Bahasa Inggris
Universitas Sarjanawiyata, Tamansiswa, Yogyakarta

Read More......

SAMBIL MENANGIS, MARYANI MENGISI SOAL UJIAN

Maryani (8) siswi kelas III SDN Sukakerta, Kecamatan Cibinong, Cianjur, Jawa Barat (Jabar), hanya bisa menangis, sambil mengisi soal ujian yang ada di depannya.

Pasalnya ia mengaku tidak dapat berkonsentrasi mengerjakan soal ujian tersebut karena berada di ruang kelas yang tidak layak pakai dan sewaktu-waktu bisa roboh. "Saya takut melaihat ruang kelas yang mau runtuh ini. Saya tidak bisa konsentrasi dan takut nilai saya jelek," akunya, sambil menangis.

Meskipun ia termasuk siswi teladan di sekolah itu, namun ia tidak dapat berkonsetrasi mengerjakan soal ujian karena kondisi kelas yang tidak mendukung. Bahkan ditakutkan ketika hujan turun, seluruh kegiatan siswa terpaksa dihetikan karena kondisi atap yang sudah bocor dan banyak bolong. Hal yang sama terlihat di tenda yang disulap menjadi ruang kelas.

Pihak sekolah pasca gempa yang melanda kawasan itu beberapa bulan lalu, telah mengajukan permohonan dana ke Diknas Cianjur dan Bupati Cianjur. "Namun hingga saat ini dana relokasi dan rekonstruksi bangunan sekolah ini belum juga turun. Alasan Pemda Cianjur, belum ada dana untuk bantuan bencana alam," kata Didi Supriadi, Kepala Sekolah Sukakerta.

Ia menambahkan, bagi siswa yang menjalani ujian pagi hari dan siang, tidak terlalu bermasalah. Namun siswa yang ujian sore ditakutkan akan terlambat karena sering turun hujan pada sore hari. "Harapan kami pihak pemerintah segera mengucurkan dana untuk membangun kembali sekolah ini. Karena tidak ada ruang lain atau bangunan lain untuk kami menumpang," harapnya. Harapan yang sama keluar dari puluhan siswa sekolah dasar itu. Mereka berharap bangunan sekolah mereka yang rusak dapat dibangun kembali agar dapat belajar dengan tenang seperti dulu.
K.FKR

Sumber
Cianjur, 7/12 (ANTARA)

Read More......

Keadilan Direcehkan, Koin Dikumpulkan. ..

Dengan berkendara sepeda motor, Deny (43) akhirnya tiba di rumah yang ia cari-cari sejak beberapa hari lalu. Wajahnya agak letih dengan dahi yang berkilat oleh peluh. Di tangannya tergenggam satu celengan plastik usang. Sarie Febriane

Saya mau ikut nyumbang koin buat Prita,” ujar Deny sembari tersenyum semringah, Minggu (6/12).

Celengan itu lalu ia robek dengan pisau. Dengan sabar dihitungnya satu per satu recehan sejumlah Rp 92.000 itu. ”Ini recehan kembalian beli rokok,” ujar warga Lebak Bulus, Jakarta Selatan, itu.

Deny lalu menyerahkan recehannya kepada relawan di rumah Markas Sehat, salah satu simpul pengumpulan koin untuk Prita Mulyasari (32), di Kompleks PWR Nomor 60, Jalan Taman Margasatwa, Jatipadang, Jakarta Selatan. Markas Sehat sedianya wadah bagi komunitas mailing list (milis) Sehat Group, komunitas independen yang giat memberikan pencerahan bagi konsumen medis. Dari diskusi di milis itulah gagasan pengumpulan koin muncul.

Solidaritas publik kepada Prita tak jua menyurut meski banyak persoalan lain di negeri ini juga masih membetot perhatian. Pengadilan Tinggi Banten mengukuhkan putusan hukuman denda Rp 204 juta terhadap Prita. Ibu dua anak tersebut harus membayar uang sejumlah itu kepada RS Omni Internasional Alam Sutra, Tangerang Selatan, yang menggugatnya (perdata) karena dianggap mencemarkan nama baik rumah sakit dan dokter. Putusan itulah yang melecut solidaritas publik untuk membantu Prita membayar denda meski dia tengah mengajukan kasasi.

Fauzie Ishak, Kepala Hubungan Masyarakat Pengadilan Tinggi Banten, kemarin, mengatakan terlalu terburu-buru apabila ada yang berpendapat Prita harus segera membayar ganti rugi Rp 204 juta. Putusan perdata itu belum mempunyai kekuatan hukum tetap.

Deny hanyalah salah satu dari mungkin ribuan orang yang sejak Jumat hingga Senin lalu menyumbangkan koin di sejumlah titik pengumpulan koin di beberapa wilayah di Indonesia. Di Markas Sehat, kemarin, telah terkumpul recehan koin melampaui Rp 7 juta. Sementara di simpul pengumpulan di Wetiga, Jalan Langsat I/3A, Jakarta Selatan, semalam terkumpul lebih dari Rp 5 juta.

”Ini soal rasa keadilan yang terusik. Bukan salah benar menurut hukum,” kata Ainun Chomsun (36), penyumbang koin di simpul Wetiga, Senin. Ainun mengaku juga kerap mengalami peristiwa tak menyenangkan saat berurusan dengan rumah sakit.

Tak hanya orang dewasa, solidaritas sosial ini juga mengetuk hati anak-anak. Raia Ramania (8), siswi SD Kupu-kupu, Kemang, Jakarta Selatan, juga tergerak hatinya untuk menyumbangkan uang receh koin yang ia tabung selama ini. Raia sempat meminta penjelasan neneknya, Susanti Kromodimoeljo (57), soal kasus Prita. Gadis kecil itu pun spontan mengajak neneknya menyumbang koin.

”Setelah nonton di TV, dia tanya soal koin itu. Terus langsung ajak saya untuk nyumbang celengannya,” tutur Susanti.

Simbol protes rakyat

Di Banten, para mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, juga mengumpulkan uang koin membantu Prita.

”Hari pertama ini pengumpulan recehan di dalam kampus dulu, tetapi nanti diperluas untuk masyarakat umum,” kata Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Ahmad Ufuwan.

Di Solo, Jawa Tengah, pengumpulan koin solidaritas untuk Prita juga digelar mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Komunikasi dan Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Mahasiswa bersama organisasi massa Republik Aeng-aeng menggelar ”Koin Cinta untuk Prita” di perempatan Ngapeman, Solo.

”Saya bersimpati dengan perjuangan Prita. Kasihan nasibnya. Mudah-mudahan dia bisa bebas dari ancaman hukuman,” kata Raharsih (67), penyumbang.

”Bukan nominalnya. Ini penting sebagai tanda solidaritas kami untuk Prita yang tengah mencari keadilan. Aksi galang koin ini sekaligus bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan bagi wong cilik,” kata Mayor Haristanto dari Republik Aeng-aeng.

”Sekarang Prita, mungkin besok nasib serupa bisa menimpa kita, jadi harus kita lawan,” ucap Syarif Hidayatullah, Gubernur BEM Fakultas Komunikasi dan Informatika UMS.

Wicaksono (44), relawan di simpul Wetiga, mengatakan, jika kasasi Prita dikabulkan, koin tetap akan diserahkan kepada Prita. ”Terserah Prita nanti untuk apa. Kalau mau disumbangkan kepada pihak lain juga tak masalah,” katanya.

Wicaksono menambahkan, banyak orang Indonesia di luar negeri bahkan juga ingin berpartisipasi. ”Karena itu, kami berencana akan buka paypal,” kata Wicaksono.

Elona Melo Tomeala Arief (34), penggagas pengumpulan koin dari milis Sehat Group, mengatakan, sedianya gagasan pengumpulan koin itu tak sekadar membantu Prita, tetapi juga simbol protes terhadap rasa keadilan rakyat yang dilecehkan. ”Koin recehan itu simbol rakyat banget,” ujar Elona.

Wicaksono, yang berinisiatif membuat situs http://koinkeadilan .com sebagai sumber informasi pengumpulan koin, juga mengungkapkan hal serupa.

”Ketika keadilan direcehkan, rakyat berbuat seperti ini. Mengumpulkan koin recehan,” ujarnya. (CAS/EKI/PIN)

__._,_.__

Read More......

Upin dan Ipin : Tontonan Mendidik

Assalamu’alaikum wr.wb

Shahabat yang baik…

Izinkan saya membuka sapaan dimuka dengan doa kebahagiaan dan kesuksesan, bagi kecemerlangan hidup yang prima untuk kita semua. Saya sangat yakin sekarang anda sangat senang, sesenang aktivitas saat ini.


Tadi sore jam 3.45 saya tiba di Terimanal bis baranang siang. Mau berangkat ke Lebak bulus. Setelah menunggu selama 15 menit, kemudian bis mulai berangkat menuju tujuannya yaitu terminal lebak bulus.



Syukur alhamdulillah di bis tujuan Bogor-Lebak bulus gak ada pengamen. Jadi mau tiduran atau nonton tv menjadi pilihan masing-masing. Saat itu, chanel yang dipilih adalah TPI. Acaranya film upin dan Ipin.



Film ini memberikan kesan bagi saya, sehingga menarik fokus saya untuk tetap menyaksikannya terus. Petualangan Upin dan Ipin mengisahkan tentang ”Bajak Laut.” Sebagaimana lazimnya, Bajak Laut erat kaitannya dan berdekatan dengan Harta Karun. Baik kita baca kisah atau petulangan Sinbadpun, juga demikian.



Kemudian, tibalah upin dan ipin bersama dengan teman-temannya kesebuah pulau, dipulau tersebut ada gua. Didepan nya ada Makhluk batu Raksasa. Setibanya nya mereka disana, Raksasa tersebut menghentikan perjalanannya anak-anak kecil itu.



Raksasa : Kalian pasti ingin mengambil harta karun dalam gua ini kan? Aku adalah penjaga gua ini. Jika kalian ingin mengambilnya, maka lewati dulu aku.

Ipin : Betul...betul. ..betul.. ..betul.. .

Upin : Baiklah kami sanggup.

Raksasa : Bersiaplah kalau begitu.



Kemudian Raksasa melangkahkan kakinya untuk menginjak Upin dan teman-temannya. Tapi mereka berhasil menghindar. Upin dkk pun, melempari raksasa dengan kayu. Tapi sia-sia. Ini terus berlangsung. Hingga beberapa saat kemudian, Mei-mei ....



Mei-mei : Hei...Stop.. stop... Bergaduh itu tidak baik.

Raksasa : Ha...??? Iya betul, bergaduh itu tidak baik anak-anak. (Sambil menggoyangkan terlunjuknya) kemudian, Raksasa menwarakan.

Raksasa : Bagaimana kalau kita adu kecerdasan. Itu lebih bijak.

Teman Ipin : Setuju... karena saya anak pintar.



Shahabat yang baik.

Sungguh indah dan bijak pesan moral yang disampaikan. Saya membayangkan, jika film anak-anak yang ditayangkan televisi banyak mengandung pesan dan pendidikan. Tentu tontonannya menjadi bermanfaat bagi anak-anak. Sehingga, Semenjak dini, mereka telah mendapatkan pendidikan tentang kebijaksanaan dan akhlaqul karimah.



Sementara itu, masih teringat dengan jelas dikepala kita. Upin dan Ipin pada bulan Ramadhan yang lalu. Film kartun ini, begitu eloknya menyampaikan pesan-pesan agama. Bahkan sarat akan syarat sah puasa dan yang berhubungan dengannya. Secara tidak langsung, mengajarkan pembelajaran bagi yang menontonnya.



Tentu, orang tua dan yang lebih dewasa menemani adik-adik yang masih kecil, selama mereka menonton acara tersebut. Sehingga makna-makna tersirat tidak salah tafsir. Seperti film ini. Dari pada berkelahi, lebih bijak beradu ilmu. Tentu saya setuju, bahwa ilmu (kecerdasan) mendapatkannya, bukan untuk diadu. Makna lainnya. Bila sedang marah, kesal, atau hal lain. Tetap gunakanlah akal yang jernih. Gunakan kecerdasan Otak, bukan mengandalkan otot. (Wallahu’alam)



Kemudian mereka sepakat adu teka-teki. Raksasa, memulainya dengan : Pertanyaan, ”Gajah terbang meningalkan apa ?” Anak kecil itu bingung, mereka saling bertanya satu sama lain. ”gajah terbang, meninggalkan apa?”. Tiba-tiba majulah ipin dengan jawaban ”Gajah terbang meninggalkan , Tidak mungkinnya”. ”betul sekali kamu.” Kata Raksasa. Akhirnya Upin, Ipin dan teman-temannya memenangkan adu kecerdasan tersebut.



Bogor 8 Desember 2009


RAHMADSYAH, CM.NLP

Read More......

Pelaksanaan DAK Nganjuk, 90 Persen Menyimpang

Komisi C lakukan inspeksi mendadak.Nganjuk,Bhirawa Gerah dengan banyaknya penyimpangan pelaksanaan rehab sekolah menggunakan dana alokasi khusus
(DAK), anggota DPRD Nganjuk akhirnya turun lapangan. Tanpa menunggu adanya
laporan, anggota Komisi C melakukan kunjungan mendadak memeriksa puluhan sekolah
yang menerima DAK.

Hal ini diungkapkan anggota komisi C DPRD Nganjuk Asrori Arif. Saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) beberapa waktu lalu, ia memang sengaja mencari informasi dengan menemui pekerja di lapangan. "Saya melihat, penyimpangan pelaksanaan DAK hampir merata dan seolah terorganisir, " ujar Asrori.

Awalnya, Asrori mendapat informasi tentang penyimpangan dalam pelaksanaan DAK. Hanya saja, saat itu dia masih belum yakin karena belum melihat langsung di lapangan. Baru saat melakukan sidak, wakil rakyat ini membuktikannya langsung. Hasilnya, dari pengakuan para pekerja yang ditemuinya mengaku pelaksanaan rehab sekolah penerima DAK memang terjadi penyimpangan dengan terlibatnya pengusaha jasa kontruksi.

Menurut Asrori, indikasi keterlibatan pengusaha jasa kontruksi tersebut juga diakui langsung oleh salah satu kepala sekolah (Kasek) di wilayah Patianrowo. Kepala Sekolah tersebut terang-terangan mengakuinya. Menurut Asrori, Kepala Sekolah tersebut juga mengatakan sistem seperti itu hampir dilaksanakan sekolah-sekolah penerima DAK di wilayah Kecamatan Patianrowo. "Jadi sudah bukan rahasia lagi," terang anggota Fraksi PKB tersebut.

Secara pribadi, Asrori mengaku menyayangkan keputusan pihak sekolah yang nekat memutuskan untuk tidak memanfaatkan masyarakat sekitar sekolah untuk melaksanakan pembangunan. Apalagi, saat pelaksanaan, pihak sekolah telah mendapat sosialisasi tentang petunjuk pengelolaan DAK yang harus swakelola.

Pasalnya, jika nantinya terjadi masalah dengan pelaksanaan pembangunan tentunya Kepala Sekolah, adalah yang paling bertanggung jawab. "Kalau nantinya bermasalah, apakah Kepala Sekolah berani menjamin pemborongnya ikut bertanggung jawab," tanya Asrori.

Melihat pelaksanaan DAK yang hamper 90 persen menggunakan jasa pihak ketiga tersebut ditengarai bukan karena kemauan Kepala Sekolah. Akan tetapi ada indikasi para Kepala Sekolah ketakutan lantaran adanya tekanan dari pejabat di Dinas Dikpora. Selain masalah pelaksanaan pembangunan yang tidak swakelola, Asrori juga menyoroti masalah penggunaan material pembangunan yang tidak sesuai rencana anggaran bangunan (RAB).

Scara terpisah, Kabid TK/SD Dinas Dikpora Nganjuk Sudjiono saat dikonfirmasi
mengakui memang menerima informasi sekolah yang masih nekat menggunakan jasa
pemborong. Hanya saja, pihak Disdikpora tidak bisa langsung melarang karena
semua keputusan dan tanggung jawab penuh ada pada kepala sekolah. "Kami ini tak
henti-hentinya menghimbau kepala sekolah untuk melaksanakan DAK sesuai dengan
petunjuk," jelas Sudjiono. Sudjiono sendiri membantah jika penggunaan jasa
pihak ketiga dalam pembangunan DAK atas rekomendasi dari Dinas Dikpora. Termasuk
informasi tentang adanya tekanan-tekanan pada pihak sekolah. "Nggak ada, Kepala
Sekolah itu hanya kami suruh melaksanakan sesuai dengan aturan," papar Sudjiono.
[ris]


Read More......

Ruwetnya DAK Pendidikan di Kab. Sampang

Sampang, Sergap - Pelaksanaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan tahun
anggaran 2009 di Kabupaten Sampang, ditengarai banyak kejanggalan dan penyimpangan, baik dari konstruksi bangunan maupun dugaan adanya pungutan liar (pungli) yang marak mewarnainya.

Dari penelusuran di lapangan, proyek pemerintah pusat yang dikerjakan secara swakelola oleh pihak sekolah sendiri dengan besar anggaran Rp 230 juta per sekolah ini, dalam pelaksanaanya banyak yang menyimpang dari Petunjuk Teknis DAK Pendidikan yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Rencana Anggaran Belanja (RAB)
serta gambarnya.

Perbuatan tidak bertanggungjawab itu masih banyak ditemukan di sekolah - sekolah dasar, utamanya di daerah terpencil. Salah satunya di SDN Rong Dalem II Kecamatan Omben dan SD Karang Penang Oloh IV Kecamatan Karang Penang Kabupaten Sampang.
Dengan mudah dan terlihat kasat mata, bahwa
pelaksanaan rehab gedung tempat belajar generasi muda harapan bangsa
ini, terkesan "separuh hati". Hal ini terlihat dari kondisi kayu kusen
yang sudah keropos dimakan rayap dan sudah tidak layak pakai, tapi
masih terpasang. Juga dinding yang sudah retak parah, namun hanya
ditambal sulam.

Dalam penelusuran selanjutnya, terdapat pula
sekolah dasar negeri yang mendapatkan dana DAK Bidang Pendidikan 2009,
padahal jumlah siswanya kurang dari 50 anak. Padahal dalam Petunjuk
Tekhnis yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan, jikasebuah sekolah
dasar negeri muridnya kurang dari ketentuan yaitu minimal 50 siswa,
harus dilakukan regrouping (digabungkan dengan sekolah lain, red).
Bahkan ada sekolah yang berdiri diatas tanah sengketa, yang tentu saja pada akhirnya menjadi kendala dalam pelaksanaan rehabnya, sehingga pada akhirnya tidak dapat memenuhi target waktu yang telah ditentukan sesuai dengan Surat Perintah Kerja
(SPK)nya. Padahal pelaksanaan pekerjaan harus selesai tanggal 05 Oktober 2009.

Lebih parah lagi, sebuah sumber yang namanya minta untuk tidak ditulis, menceritakan tentang dugaan adanya pungli dalam proyek yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Sumber itu mengatakan bahwa kepada sekolah-sekolah yang mendapat DAK 2009 ini, maka kepala sekolah harus menyetorkan uang sebesar Rp.2,5 juta, ketika dana DAK tahap I cair. Dan akan "diwajibkan" setor lagi sebesar Rp. 6 juta, ketika pencairan dana tahap II.

Kegiatan pengumpulan dana ini difasilitasi oleh seorang koordinator yang ada di setiap Kecamatan. Untuk menghilangkan jejak, maka tidak ada tanda terima (kwitansi) yang dibuat serta tidak jelas untuk keperluan apa dan siapa yang memanfaatkan dana "misterius" ini.

Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang sebagai pangawas dalam proyek DAK Bidang Pendidikan belum dapat dikonfirmasi tentang maraknya dugaan penyimpangan ini. Senin (28/009), ketika untuk kesekian kalinya Tabloid Sergap menemui Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang, Drs. Heri Purnomo, M.Pd, namun yang bersangkutan
tidak bersedia menemui. (Rida)

Read More......

Di Jatim, Satu Guru Satu Laptop

Surabaya - Jawa Timur dijadikan proyek percontohan program Satu Guru Satu Laptop. Jika sukses, program itu akan dikembangkan ke seluruh Indonesia.

Manajer Intel Indonesia Budi Wahyu Jati mengatakan, Intel bekerja sama dengan beberapa pihak untuk menjalankan program itu. Jawa Timur menjadi percontohan karena idenya datang dari para guru dan dinas pendidikan di Jawa Timur.

"Di Indonesia, Intel bekerja sama dengan Tera Data Indonesia, distributor Axioo, untuk menyediakan laptop bagi setiap guru. Kalau sukses di sini, program ini akan dikembangkan pada skala nasional," kata Budi, Minggu (6/12) di Surabaya.

Di Jatim, proyek itu diberi nama Sagusala (Satu Guru Satu Laptop). Klub Guru Indonesia (KGI) yang menggagas program itu berupaya menyediakan komputer jinjing terjangkau untuk setiap guru. "Namun, kualitas harus tetap dijaga," ujar Budi.

Chief Operating Officer Tera Data Indonusa Singgih Halim mengatakan, pihaknya menggandeng salah satu bank untuk menyediakan kredit pembelian komputer. Kredit akan diberikan secara kolektif. "Bank mau menyediakan kredit murah jika pembelinya banyak. Kami ikuti skema bank," jelasnya.

Agar pemanfaatan optimal, komputer itu akan dilengkapi beberapa program. Para guru bisa memanfaatkan program itu dalam kegiatan belajar-mengajar.

Ketua KGI Satria Dharma menuturkan, sementara ini sudah ada beberapa program pembelajaran yang siap dimasukkan ke dalam komputer guru. Para guru bisa memilih program sesuai dengan kebutuhan masing-masing. KGI juga akan melakukan pelatihan rutin agar guru bisa secara optimal menggunakan laptop. (RAZ)

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/12/07/ 03540958/ di.jatim. satu.guru. satu.laptop


Read More......

Sekolah Internasional dan Pendidikan Internasional

Sekolah internasional merupakan sekolah yang warga berlajarnya berasal dari aneka
bangsa sehingga suasana internasionalnya tercipta dengan sendirinya dalam
komunitas sendiri. Warga belajarnya mempunyai perbedaan baik asal negaranya,
warna kulitnya, agamanya, sosialnya serta bahasanya.

Setiap sekolah internasional belum tentu memberikan
pendidikan internasional di sebabkan ada juga sekolah internasional yang
menerapkan kurikulum nasional negara tertentu. Misalnya kurikulum singapura,
kurikulm amerika dan sebagainya. Biasanya untuk lebih “afdhal” maka sekolah
internasional tersebut mendatangkan para pengajar dari negara asal kurikulum
tersebut.

Bahasa yang digunakan umumnya bahasa Inggris karena
warga belajarnya multietnis sehingga di perlukan bahasa yang universial bagi
warga belajarnya.

Yang terpenting dari pendidikan internasional adalah harus
dimaknai dengan pendidikan yang menjadikan anak didiknya berpikir secara
terbuka dan internasional, open and international minded. International minded
dimana di dalamnya para anak didiknya kelak akan menjadi manusia yang ‘berwarga
negara internasional’ atau istilahnya sebagai global citizen. Jadi pendidikan
internasional bukan sekedar kulit belaka, namun lebih pada esensi yang terletak
di dalamnya, dalam pembelajarannya.

Mohon saran untuk pelengkapan tulisan ini, baik komentar maupun artikel, atas perhatiannya zafan ucapkan terima kasih.

Saran bisa di kirim ke
"Zafan Al Kadiri"

Read More......

POLRES PAGARALAM SELESAI PERIKSA 33 KEPALA SEKOLAH

Setelah hampir satu bulan, Polres Kota Pagaralam, Sumatera Selatan akhirnya menyelesaikan pemeriksaan 33 kepala sekolah dalam kasus dugaan korupsi dana alokasi khusus (DAK) senilai Rp11,8 miliar
"Berkaitan dugaan korupsi DAK untuk sekolah dasar tahun 2009, kami sudah menyelesaikan pemeriksaan sekitar 33 kepala sekolah dari 37 sekolah yang menerima DAK sebesar Rp11,8 miliar itu," kata Kasat Resrim Polres Pagaralam, AKP Syahril, di Pagaralam, Senin. Ia mengatakan, prosesnya dilakukan secara bertahap dengan para kepala sekolah itu sebagai saksi, dan tinggal empat sekolah lagi yang belum diperiksa untuk diproses lebih lanjut.

Pihaknya juga telah mendengarkan penjelasan dari dua staf ahli fisik bangunan dari Dinas PU Cipta Karya yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan terkait proses pembangunan sekolah melalui dana tersebut.
Setelah dilakukan pemeriksaan oleh saksi ahli itu, menurut dia, terbukti dalam proses pembangunan 37 sekolah yang menerima DAK terindikasi terjadi penyimpangan sehingga merugikan negara.

"Untuk mengetahui nilai kerugian negara saat ini belum dapat disebutkan, mengingat masih dalam proses pemeriksaan sejumlah saksi-saksi. Kami sudah menargetkan dalam dua minggu ini penanganan kasus DAK akan dapat diselesaikan, " ujar dia pula.
Menurut Syahril, setelah pemeriksaan semua kepala sekolah termasuk sejumlah pejabat Dinas Pendidikan, baru akan dilakukan audit oleh BPKP, sehingga akan jelas berapa kerugian negara maupun siapa saja yang akan menjadi tersangka.

"Pada penyidikan tahap awal dapat diketahui sekolah yang tidak menjalankan proses penggunaan dana tersebut termasuk yang menyalahi aturan atau ada rekayasa. Buktinya dari pemeriksaan saksi ahli banyak sekali penggunaan dana tersebut dalam proses pembangunan infrastruktur sekolah tidak sesuai dengan rencana anggaran biayanya," kata dia lagi.

Dia menyebutkan contoh dalam penggunaan material bangunan mulai dari besi, kayu, termasuk pada pelaksanaan pembangunan sekolah tersebut.
Ada sekolah yang seharusnya menjalani rehabilitasi berat, tapi pada pelaksanaan hanya rehab ringan dan bahan yang dibutuhkan untuk bangunan kebanyakan berkualitas kurang baik.

Padahal jumlah dana yang diterima setiap sekolah cukup besar, mulai dari Rp200 juta hingga Rp500 juta, tergantung pengajuan dari pihak sekolah.
Menurut Kapolres Kota Pagaralam, AKBP Abdul Soleh, walaupun seluruh kepala sekolah diperiksa, belum tentu semuanya bersalah, tergantung dari hasil pemeriksaan dan pengembangan penyidikan di lapangan.

Kapolres menegaskan bahwa melalui pemeriksaan ini, akan dapat mengungkap semua kepala sekolah yang terlibat korupsi atau penyimpangan DAK tersebut.
"Kalau hanya mengambil sampel saja, akan sulit membuktikan secara menyeluruh pejabat sekolah yang mana melakukan dugaan korupsi," ujar dia lagi.

Pada tahap awal sudah diperiksa pejabat di lingkungan Diknas Pagaralam, yaitu mantan kepala dinas, IS, dan Sekretaris, HM, termasuk seluruh kepala sekolah penerima DAK, kata dia pula.

Sumber
Pagaralam, Sumsel, 19/4 (ANTARA)

Read More......